Muncul perasaan gembira dan ungkapan puji syukur yang tidak terkira tatkala seseorang berada dalam posisi menang dan atau sedih ketika kalah, itu adalah hal yang sangat manusiawi, apalagi tak semua orang di dunia sempat menjadi orang nomor satu atau pemenang dalam suatu perlombaan dan atau permainan. Apalagi, kemudian ternyata pihak yang menang tersebut belum tentulah bermakna menang, demikian juga bagi mereka yang kalah, belum tentu jugalah berarti kalah.

Bahkan suatu kemenangan bahkan bisa bermakna suatu kekalahan, bila kemenangan itu kemudian dijadikan sebagai jalur menuju kemungkaran yang lebih luas, seperti ketidakadilan dan atau kesewenangan. Apalagi dalam banyak kenyataan, tak sedikit dari mereka hamba Allah yang mengalami nasib seperti itu, karena terlalu terluap dalam kegembiraan dan atau terjebak dalam suatu permainan yang memang dibuat Indah oleh Sang Pencipta sebagai godaan bagi mereka yang belum pernah bertarung pada medan yang sesungguhnya. 

Ada yang berubah bagaikan serigala pemangsa yang kemudian menginjak injak hak orang banyak ketika berada di tampuk kekuasaan yang menggiurkan. demikian juga, yang kalah, bukan berarti kalah, tetapi bisa bermakna menang. Bisa jadi kekalahan yang dialami pada waktu itu ikut membantu menutup peluang pihak yang kalah dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang berlumuran dosa nantinya bila sempat meraih kemenangan.

Namun demikian, memanfaatkan kemenangan itu sebagai kesempatan untuk meraih kemenangan lebih lanjut adalah tindakan yang perlu dan bijak, jika sebelumnya di iringi dengan niat dan setelahnya diaplikasikan dalam perbuatan yang sesuai dengan apa yang sebelumnya diniatkan.

Banyak sekali pertarungan yang harus dimenangkan pada masa selanjutnya pada saat kita telah memenangkan suatu pertandingan, seperti bertarung dengan berbagai godaan untuk melakukan penyelewengan. Untuk itu, cara yang digunakan Khalifah Abu Bakar r.a. sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai salah satu alat untuk menyelamatkan diri dari kekalahan dunia dan akhirat. Yaitu, melibatkan rakyat sebagai pengingat, setelah memohon pertolongan Allah Subhanahu Wata'ala. Namun demikian, hal ini menuntut suatu kehati-hatian karena tidak semua orang menjadi pengingat, tetapi bahkan menjadi pendorong yang menjerumuskan.

“Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin, bukan karena aku yang terbaik di antara kalian, Oleh karena itu jika aku berbuat baik, bantulah aku; 
dan jika aku berbuat salah, luruskanlah aku” 
(Khalifah Abu Bakar r.a.)


Hormati hak asasi manusia , Karena itu fitrah manusia ,  Kita semua bebas memilih , Jalan hidup yang disukai
Tuhan pun tidak memaksakan , Apa yang hamba-Nya lakukan

Terapkan demokrasi Pancasila , Sebagai landasan negara kita , Janganlah suka memperkosa , Kebebasan warga negara , Karena itu bertentangan , Dengan perikemanusiaan dan tentunya hukum Al Quran

Kebebasan beragama (itu hak asasi)
Kebebasan berbicara (itu hak asasi)

Kita bebas untuk melalukan segala-galanya , Asal saja tidak bertentangan dengan Pancasila

Kebebasan berusaha (itu hak asasi)
Kebebasan tuk berkarya (itu hak asasi)

Kita bebas untuk melalukan segala-galanya,  Asal saja tidak bertentangan dengan Al Qur'an Dan Sunnah rasul Nya.

Suatu hari, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berkumpul dengan para sahabat. Rasulullah berkata, “Umatku akan tertimpa penyakit umat-umat terdahulu.”

Para sahabat bertanya, “Apakah penyakit itu, ya, Rasulullah?”

Nabi menjawab “Berbuat jahat, menentang kebenaran, berlomba-lomba dan bersaing dalam kekayaan, saling menjauhi dan bersikap dengki , sehingga muncul pembangkangan dan kekacauan” (HR. Thabrani).

Tak sedikit waktu yang diberikan untuk hidup, sehingga hendaknya tak melewatkan kesempatan untuk mencermati penyakit-penyakit umat terdahulu yang mungkin bersarang dalam diri kita sendiri. Meskipun tak menyadari dan menyukainya, tak tertutup kemungkinan di antara kita telah menjadi pewaris-pewarisnya atau bahkan penyebar-penyebarnya.

Sungguh bila dicermati, penyakit-penyakit yang disebutkan Rasulullah itu, seperti kejahatan, kedengkian, berlomba-lomba dalam kekayaan, dan berlain-lain, kini semakin akut dan parah. Sehingga membuat hubungan dengan saudara-saudara seiman pun menjadi renggang dan bahkan tercerai-berai. Hal ini terus berlangsung bahkan di bulan kelahiran Nabi.

Namun anehnya, banyak yang malu mengakuinya. Untuk menutupi kejahatannya, sebahagian orang menyewa pembela berlapis-lapis. Ini suatu pertanda bahwa jangankan orang lain, diri sendiri pun sebenarnya tidak senang atau tidak mau menerima perbuatan jahat diri sendiri. Ini bermakna bahwa perbuatan-perbuatan itu sifatnya hina dan memalukan. 

Dan melakukannya terus-menerus adalah bentuk penghinaan terhadap diri sendiri secara berkelanjutan. Yang jelas sudah diberitahukan, surga tidak akan menerima orang-orang yang gemar berbuat kejahatan, kecuali bagi yang telah bertaubat.

“Bila seekor keledai terperosok di kota Baghdad niscaya Umar akan diminta pertanggungjawaban, seraya ditanyakan: ‘Mengapa tidak meratakan jalan untuknya?” (Umar bin Khattab r.a.).

Ucapan Khalifah Umar bin Khattab itu menunjukkan bahwa sahabat Nabi SAW itu sangat berhati-hati dan bertanggung jawab, Terutama tanggung jawabnya dalam memimpin rakyatnya. Ada ketakutan yang luar biasa, bila program-program dalam kepemerintahannya tidak menyentuh hajat rakyat banyak.

Apalagi di akhirat kelak, akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran (QS. Ash Shaaffat: 22-24), kelak akan diperintahkan para malaikat untuk mengumpulkan orang-orang zalim beserta teman-teman mereka dan segala yang mereka sembah selain Allah dan diperintahkan untuk menunjukkan kepada mereka jalan ke neraka. Dan diperintahkan mereka ditahan di tempat perhentian dimintai pertanggungjawaban.

Ucapan Umar bin Khattab dan ayat ini bisa digunakan untuk mengamati sekaligus menilai bagaimana gerak-gerak para (calon) pemimpin dan wakil rakyat yang kini mulai lagi mengiming-imingi program-programnya. Semua imingan itu kedengarannya luar biasa dan sangat menyejukkan hati. Semuanya mengarah pada upaya mengutamakan dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Di antara pesan yang penting adalah membuka mata untuk melihat kebutuhan-kebutuhan rakyat. Rakyat tidak memerlukan program-program yang melayang ke langit, karena di bumi pun kebutuhan dasar masih banyak yang perlu dipenuhi. Tanpa harus membuka dua belah mata pun, akan didapati jalan-jalan dan jembatan-jembatan yang memprihatinkan. Apalagi kalau digunakan ribuan pasang mata aparat pemerintahan, sungguh akan terlihat banyak kebutuhan rakyat lainnya.

Wallahu A'lam

Betapa meruginya seorang anak manusia bila pohon yang ditanam, apalagi sudah menghabiskan modal yang tak sedikit dan menunggu bertahun-tahun, tidak berbuah. Begitu perumpamaan dalam mencari ilmu....?  Umumnya manusia menghabiskan uang yang tak sedikit, umur yang banyak, dan kelelahan yang tiada terhingga, untuk menuntut ilmu.

Namun ketika memperolehnya, ilmu tersebut kadangkala bagaikan pohon yang tak berbuah atau buah yang tak dapat dinikmati.

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, buah dari ilmu menyebabkan seorang hamba dipuji Allah. Tentunya tak akan mendapat pujian dari Allah bila tidak mengamalkan ilmu dengan menunjukkan ketaatan dan ketakutan kepadaNya. Dalam Alquran disebutkan, 

"Yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu" (QS. Fathir: 28).

Namun, ketaatan dan ketakutan seseorang hamba kepada Allah bukan hanya akan terlihat dari bagaimana ia memelihara hubungan baik denganNya, tetapi juga bagaimana memelihara hubungan baik dengan sesama manusia. Santun dalam berbicara, bijak dalam membuat keputusan, dan adil dalam membuat penilaian, merupakan di antara wujudnya.

Namun terkadang manusia lupa terhadap ilmu yang telah disapih bertahun-tahun. Ilmu kadang dijadikan kotak pemisah dirinya dengan orang banyak, sehingga tidak memberi manfaat bagi perbaikan umat. Yang lebih parah, ilmu dijadikan lambang keangkuhan.

An-Nawawi rahimahullah mengingatkan bahwa sungguh tercela orang yang menuntut ilmu karena menginginkan dunia seperti harta, kepemimpinan, jabatan, kedudukan, popularitas, supaya orang lain cenderung kepadanya, untuk mengalahkan lawan debat dan tujuan semacamnya.

“Wahai anakku, kalau sewaktu kecil kamu rajin belajar, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, maka sewaktu dewasa kelak kamu akan memetik buahnya dan menikmatinya” (Luqman al-Hakim).

“Dan bertolong-tolonglah dalam melakukan kebaikan dan takwa, dan jangan bertolong-tolong dalam perkara mungkar” (QS. al Maidah: 2).

Pendirian sangat penting dimiliki, agar tak terombang-ambing dan terjerumus ke dalam perbuatan berdosa, Setiap hari, setiap hamba Allah disuguhkan dengan berbagai kabar dengan tujuan yang beragam. Ada yang bersifat membujuk, ada pula yang bersifat memberitakan yang sebenarnya, pun adapula yang berisi sindiran dan kata - kata halus lainnya. Seperti kampanye yang umumnya bersifat menggiring atau membujuk, untuk mengakui seseorang termasuk baik dan berkualitas sehingga layak dipilih sebagai pemimpin. 

Namun, sudah semestinya seberapapun banyak bujukan yang diterima, orang-orang beriman memiliki pendirian yang teguh, terhadap prinsip serta aqidah yang dimilikinya.

Dalam meneguhkan pendirian, orang-orang beriman antara lain bisa merujuk kepada firman Allah yang menyerukan agar senantiasa bekerjasama dalam meneguhkan keberlangsungan kebaikan, dan dilarang bekerjasama untuk membantu memperkuat kejahatan (QS. al Maidah: 2). Dalam memilih pemimpin, misalnya, merujuk kepada firman Allah yang melarang mengambil dari orang-orang zalim (QS. Hud: 113). Sangat terbuka kesempatan untuk berbuat dosa, seperti karena memilih orang-orang yang gemar melakukan kemaksiatan sekaligus menyalahkan amanah.

Memilih orang yang menggemari kejahatan dan tidak amanah akan mendapatkan dosa berlapis-lapis. Alasannya, pertama, telah mengabaikan larangan Allah untuk tidak mengambil orang zalim sebagai pemimpin. Kedua, telah menutup kemungkinan orang-orang baik menjadi pemimpin umat, sehingga kebenaran yang ingin diwujudkan menjadi kandas. Ketiga, telah ikut melanggengkan kejahatan, karena orang-orang zalim biasanya akan cenderung mendekati kezaliman. Keempat, telah memberi peluang untuk munculnya beragam kejahatan yang lebih besar, yang sulit untuk diperkirakan di awalnya. 

Ingatlah ....! bahwasanya ketika kita memilih pemimpin yang salah dan ternyata menyeru dan melaksanakan dan atau mengutamakan kezaliman serta tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah Subhanahu Wata'ala maka masyarakat dan atau kaum itu sendirilah yang merasakannya. 

Sebaiknya dan seyogyanyalah kita berpikir berulang kali dan atau memohon petunjuk kepada-Nya dalam rangka untuk memilih pemimpin yang benar dan akan membela kebenaran, agar tidak menyesal dihari kemudian. Berpikirlah dan jadikanlah shalat sebagai penolong , janganlah karena suka dan atau kesamaan suku , ras dan golongan lantas kita menjadi buta dan tidak lagi menggunakan petunjuk-Nya dalam rangka menjalani kehidupan, termasuk dalam urusan memilih pemimpin yang benar dan akan membawa kepada kemakmuran.

Sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah termasuk golongan yang awal awal masuk Islam. Ayahnya seorang tokoh Quraisy yang selalu melakukan pertentangan terhadap dakwah Nabi SAW. Meski begitu Abu Ubaidah bin Jarrah r.a tetap istiqomah dalam keimanannya. Untuk menyelamatkan keimanannya dia rela hijrah ke Habsyah pada gelombang kedua. Abu Ubaidah bin Jarrah r.a seorang mujahid yang gagah berani. Meski tubuhnya kurus tinggi tapi semangat juangnya tidak pernah mau kalah dengan Sahabat yang lain. Pada saat perang Badar di termasuk dalam barisan utama. Dengan segala perbekalan yang minim dan jumlah pasukan yang lebih sedikit tidak gentar melawan pasukan kafir Quraisy.

Demikian juga pada waktu perang Uhud, dia juga ikut bersama rombongan Nabi SAW berjuang di medan Uhud. Ketika pertempuran berlangsung dengan sengit dan posisi pasukan Islam terdesak Abu Ubaidah bin Jarrah r.a melihat Nabi SAW dalam kondisi terjepit. Saat itu banyak pasukan yang kocar kacir dan berhamburan tidak dalam formasi pasukan yang sigap, Abu Ubaidah bin Jarrah r.a maju dan mendekati Nabi SAW. Didapatinya pipi Nabi SAW terluka, yaitu terhujamnya dua rantai besi penutup kepala beliau SAW, segera ia berupaya mencabut rantai tersebut dari pipi Nabi SAW .

Abu Ubaidah mulai mencabut rantai tersebut dengan gigitan giginya. Rantai itupun akhirnya terlepas dari pipi Rasulullah SAW . Namun bersamaan dengan itu pula gigi seri Abu Ubaidah ikut terlepas dari tempatnya. Abu Ubaidah tidak jera. Diulanginya sekali lagi untuk mengigit rantai besi satunya yang masih menancap dipipi Rasulullah SAW hingga terlepas. Dan kali inipun harus juga diikuti dengan lepasnya gigi Abu Ubaidah sehingga dua gigi seri sahabat ini ompong karenanya. Sungguh, satu keberanian dan pengorbanan yang luar biasa.

Di medan Uhud ia berhasil mendapati ayahnya yang kafir sedang membunuh pasukan Islam. Segera ia mendekati ayahnya. Dibuangnya rasa kasihan terhadapnya. Pada hari itu keimanannya diuji untuk memilih Allah dan syariatnya atau memilih ayah yang selalu menentang Allah dan syariatnya. Abu Ubaidah memilih Allah dan syariatnya dan majulah terus ia merangsek ayahnya hingga terkulai.

Abu Ubaidah r.a seorang yang zuhud. Beliau cukup makan tepung yang kasar dan air minum secukupnya. Pada waktu Khalifah Umar bin Al Khattab r.a ia mendapat tugas sebagai Gubernur di Syiria. Sebagai Gubernur ia berhak mendapat uang gaji baitul mal dan fasilitas guna menunjang tugas tugasnya.

Tapi keadaanya sangat berbeda di kediamannya hanya terdapat pedang, perisai dan pelana tunggangannya. Tak ada simbol simbol kemewahan sebagi seorang Gubernur. Dia hidup nikmat dengan kemiskinannya dan dia merasa lebih tenang dengan hidup seperti itu. Umarpun lantas berkata,”Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu sebagaimana orang lain mengambilnya ?” Beliau menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, ini saja sudah cukup menyenangkan.”

Lelaki mulia ini wafat ketika terjadi wabah penyakit tho’un di Syria.

Keutamaan seorang Abu Ubaidan bin Jarrah r.a akan makin kita temui dari sebuah hadits Nabi SAW yang berbunyi “Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Wallahu A'lam

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku. Perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah, ya Allah, kehidupan ini penambah kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejelekan” (HR. Muslim).

Di atas adalah permohonan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh ini suatu permohonan yang amat penting dan layak dimohon oleh setiap insan yang masih hidup di dunia yang sebentar lagi akan ditinggalkan untuk selamanya. Lebih-lebih di zaman yang sudah diperintah hawa nafsu seperti sekarang ini. Banyak hal sudah diukur berdasarkan pemuasan nafsu belaka. Tidak sedikit orang yang hanya mau bergerak berbuat bila didorong materi untk pemuas nafsu dan atau keinginan dan berbuat karena didorong niat yang ikhlas sudah menjadi hal yang langka.

Kecenderungan untuk tergerak berbuat karena hawa nafsu bisa mengenai siapa saja, terutama mereka yang keyakinannya terhadap nilai-nilai agama dan aturan - aturan didalam kitab sucinya sudah luntur dalam dirinya. Berbeda-beda tingkat keparahannya, bahkan tidak sedikit yang sudah parah dan malah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. 

Karena itu, sepatutnya kita menyempatkan diri memohon perlindungan kepada Allah. Yaitu, memohon agar ajaran-ajaran agama bukan sekedar menjadi hafalan semata. Tetapi mampu menjadi benteng yang melindungi diri kita dari hal-hal yang menjerumuskan ke dalam kesesatan dan mengikuti hawa nafsu.

Bukan hanya itu, juga memohon agar hidup ini produktif dalam menghasilkan kebaikan walaupun kecil, bukan kerusakan. Apalagi sudah terbukti dalam sejarah panjang manusia di bumi ini, orang-orang yang produktif dalam menghasilkan kerusakan pasti berujung pada kecelakaan hidup sekaligus matinya. 

Semoga dengan permohonan ini dalam catatan kecil ini, setiap diri kita mampu memperbaiki ibadah masing-masing dan mengokohkan dan mengistiqomahkan amalan amalan kebajikan, yang juga penting adalah menjadikan permohonan atau doa sebagai rutinitas yang dicintai dan bukan sebagai rutinitas pelengkap dan penghapus kewajiban semata. 

Wallahu A'alm

Sebahagian kita merasa bahwa beribadah itu melelahkan, sehingga ada yang tak melakukannnya. Padahal kalau seluruh ibadah yang telah dilakukan, dikumpulkan, dan digunakan sebagai penebus bagi segala rahmat Allah yang dinikmati setiap saat, sungguh jauh dari kecukupannya. Apalagi sebahagian orang melaksanakan ibadah harian dan tahunannya dengan tidak ikhlas dan asal jadi. 

Lantas dengan apa manusia harus membayar rahmat yang telah dinikmati setiap saat...?

Sama sekali tak mungkin membayar segala pemberian Allah siang dan malam. Jumlahnya tak terhitung, mulai dari kesehatan mata dalam melihat, kesehatan telinga dalam mendengar, kesehatan hidung dalam mencium, kesehatan kulit untuk membalut daging, kesehatan kaki untuk berjalan, kesehatan paru-paru untuk bernafas, kesehatan otak untuk berpikir, dan lain-lain. Sepadankah harga shalat tersebut untuk ditukarkan dengan satu jam kenikmatan mata, misalnya? 

Pasti sama sekali tidak.

Karena itu, sewajarnya kita bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah, mematuhi segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Allah telah memberi kasih sayangNya sebelum kita meminta, memberi karuniaNya meskipun bagi manusia ingkar, dan senantiasa membuka tanganNya untuk menerima taubat. 

Sungguh amat memalukan bila tidak bersyukur, tidak beribadah, dan tidak berbuat baik, sedangkan rahmat Allah dinikmati setiap saat. Bila tidak bersyukur, maka siapapun sebenarnya sudah masuk perangkap iblis, sebagaimana janjinya kepada Allah untuk memerangkapkan manusia agar tidak bersyukur dan tidak menuruti jalan Allah. 

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (manusia) dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”’ (QS. Al A’raaf: 16-17).

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah: 2).

Dalam setiap pemilihan umum, suara manusia kerap disederhanakan dalam hitungan angka-angka saja. Jumlah angka yang besar dianggap merepresentasikan kemenangan, dan dianggap kalah dan diabaikan bila jumlahnya kecil. Kalau direnungi lebih lanjut, sebenarnya suara manusia tidak cukup dihitung dengan angka-angka, sebab terdapat banyak makna kemanusiaan yang tersemat di dalam setiap suara, meskipun jumlahnya kecil.

Bagi orang-orang yang memahami suara manusia mengandung nilai-nilai kemanusiaan, akan merasa berkewajiban untuk memberikan perhatian untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, tanpa membeda-bedakan. Dan kebaikan ini akan dihargai berlipatganda oleh Allah. Sehingga seorang pemimpin taat yang bekerja satu hari saja untuk kebaikan rakyatnya, akan diberikan pahala yang jauh lebih banyak dibandingkan amalan yang dilakukan seorang rakyat biasa yang dikerjakan setahun. 

Hal ini sangat wajar mengingat beban yang harus dipikul begitu besar. Sebaliknya, pemimpin yang mengkhianati rakyatnya, akan diharamkan masuk surga, sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang dijadikan Allah sebagai penguasa, tetapi dia meninggal dalam keadaan mengkhianati rakyatnya, Allah akan mengharamkan surga baginya” (HR. Thabrani).

Karena itu, sepatutnya kita mau menghargai suara sendiri dengan memilih pemimpin yang mau menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Termasuk di antaranya adalah yang mau berjuang untuk meraih kemakmuran bersama, bukan kelompoknya; yang mau menegakkan keadilan; yang mau memberantas kesewenang-wenangan; dan sejenisnya. Allah juga mengajak manusia untuk bersatu mendukung orang-orang yang berbuat kebaikan. 

Meskipun secara bernegara boleh tidak memilih, berusaha memilih bisa bermakna membantu perjuangan untuk kebaikan. Semakin banyak yang memilih orang-orang baik sebagai pemimpinnya, berarti semakin sedikit peluang terpilih pemimpin jahat.

Wallahu A'lam 

Tugas utama Rasulullah SAW adalah mengubah umat manusia menjadi insan ‘abid, saleh, dan mushlih (mampu melakukan perbaikan). Fokus pembinaannya dalam empat hal, yaitu menanamkan akidah, penyucian jiwa, mengajarkan Alquran dan hadis, serta membina keterampilan umat (QS al-Jumuah: 2).

Beliau telah melakukan tugasnya dengan sempurna sehingga generasi sahabat adalah generasi terbaik sebagaimana disabdakan, “Sebaik-baik abad adalah abad generasiku.’’ (HR Al Bukhari dan Ibnu Hibban). (Lihat QS at-Taubah: 100). Dalam memperbaiki perilaku bangsa Arab jahiliah, Rasulullah menggunakan beberapa cara mujarab.

Pertama, mengokohkan keimanan dan beribadah kepada Allah SWT. Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepada-Nya merupakan sendi untuk menjadikan hidup kita dalam kerangka ibadah kepada-Nya (lihat QS adz-Dariyat 56). Corak kehidupan Muslim seperti ini dijelaskan dalam QS al-An’am ayat 162.

Kedua, menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Rasul bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada (HR Ahmad dan Turmudzi) dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati (HR Muslim). Ketakwaan akan mengingatkan kita saat digoda iblis (QS al-A’raf 201).

Bila ketakwaan sudah menguasai hati, akhlak seseorang akan menjadi sangat mulia.

Ketiga, menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan. Allah menegaskan hal ini dalam QS az-Zumar ayat 1 dan al-Bayyinah ayat 5. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.’’(HR Bukhari).

Beliau juga menyuruh kita agar mewaspadai riya seraya bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kamu sekalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘apakah syirik kecil itu?’ Beliau menjawab, ‘riya’.” (HR Ahmad).

Keempat, zuhud dan selalu mengingat akhirat.
Rasulullah mengingatkan para sahabat dengan akhirat dan menganjurkan agar merenggangkan diri dari dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah menyebut penghancur kenikmatan, yakni kematian (HR Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Kelima, Rasulullah mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya.

Abu Abdurrrahman as-Sulami berkata, “Sahabat-sahabat Nabi yang membacakan Alquran kepada kami meriwayatkan bahwa mereka mempelajari 10 ayat dari Nabi dan belum mengambil 10 ayat yang lainnya sebelum memahami dan mengamalkannya. Lalu mereka berkata, “Kami mengetahui dulu ilmunya, lalu mengamalkannya.’’ ( HR Ahmad dan lainnya).

Keenam, memberikan teladan yang baik dan selalu paling terdepan mempraktikkan akhlak mulia sesuai dengan firman Allah dalam QS al-Ahzab:21 sebagai teladan beliau berada di atas akhlak yang agung (QS al-Qalam: 4).

Ketujuh, menanamkan kebebasan dan sikap yang positif.

Nabi bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang plinplan lalu berkata, bila manusia baik, maka kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut. Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila manusia baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’(HR at-Turmudzi).

Kedelapan, memperhatikan kejiwaan orang yang mau diubah dan hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Beliau selalu berbicara dengan setiap orang sesuai dengan kondisi mukhothob.

Kesembilan, mengikutsertakan orang lain dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu.

Rasulullah pernah bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR al-Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa kewajiban untuk menyampaikan ajaran Alquran bukan hanya bagi Rasulullah, melainkan setiap Muslim wajib menyampaikannya.

Kesepuluh, bervariasi dalam cara mengubah, seperti dengan membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun menggambar agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat. Semoga kita bisa meneladani Rasulullah.

Sumber:Republika & Ikadi Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau sampai hari kiamat.

Kaum muslimin yang kami muliakan, sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53)

Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman :

وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18).


Seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan baginya, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat kesusahan maka dia bersabar, dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar. Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).


Merupakan sunnatullah bahwasanya Allah Ta’ala telah menentukan ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Mereka akan diuji dengan berbagai macam ujian, baik dengan sesuatu yang disenangi oleh jiwa berupa kemudahan dalam hidup atau kelapangan rizki, dan juga akan diuji dengan perkara yang tidak mereka sukai, berupa kemiskinan, kesulitan, musibah atau yang lainnya.Allah Ta’ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Maksudnya, Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, serta petunjuk dan kesesatan. Inilah sunnatullah yang berlaku pada para hamba-Nya. Oleh karena itulah, kita melihat manusia ini berbeda kondisi kehidupannya. Ada yang hidup dengan harta yang melimpah, fasilitas dan kedudukan. Ada juga yang ditakdirkan hidup sederhana lagi pas-pasan. Bahkan ada juga yang hidup fakir miskin dan tidak punya apa-apa.

Segala nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah ujian bagi kita, apakah kita akan menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tatkala mendapatkan nikmat, beliau mengatakan

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

“Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).

Syukur Adalah Sifat Mulia Para Nabi , Sesungguhnya para nabi dan rasul ‘alaihimush sholatu was salam adalah manusia pilihan Rabb semesta alam, yang diutus ke dunia sebagai suri tauladan bagi umatnya. Mereka adalah manusia terdepan dalam setiap amal kebajikan. Salah satu sifat yang sangat menonjol pada mereka adalah senantiasa bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah limpahkan pada mereka. Allah Ta’ala banyak menceritakan keutamaan mereka dalam al-Qur’an sebagai teladan bagi kita. Allah ‘Azza wa Jalla menyanjung Nabi Nuh ‘alaihis salam dengan firman-Nya :

إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا
“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Isra’: 3)

Al-Bukhari dan Muslim menceritakan di dalam kitab Shahih-nya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Lalu istri beliau, yaitu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, ”Mengapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang dulu maupun yang akan datang?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا
”Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, dan Muslim,)

Hakikat Syukur, Syukur adalah akhlaq yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan keridho’an yang besar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Syukur tidak akan mungkin bisa terwujud jika tidak diawali dengan keridho’an. Seseorang yang diberikan nikmat oleh Allah walaupun sedikit, tidak mungkin akan bersyukur kalau tidak ada keridho’an. Orang yang mendapatkan penghasilan yang sedikit, hasil panen yang minim atau pendapatan yang pas-pasan, tidak akan bisa bersyukur jika tidak ada keridho’an. Demikian pula orang yang diberi kelancaran rizki dan harta yang melimpah, akan terus merasa kurang dan tidak akan bersyukur jika tidak diiringi keridho’an.

Syukur yang sebenarnya tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan “alhamdulillah”. Namun hendaknya seorang hamba bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya.  Adapun tugasnya hati dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah

Pertama : Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah Ta’ala dan bukan dari selain-Nya. Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat.  
Kedua : Mencintai Allah Ta’ala yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita.  
Ketiga : Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.

Adapun tugasnya lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri (yaitu Allah Ta’ala) dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongan-Nya kepada kita untuk mensyukuri nikmat-Nya dan menjadikan kita hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Wallahu A'lam

Salat berjamaah merujuk pada aktivitas salat yang dilakukan secara bersama-sama. Salat ini dilakukan oleh minimal dua orang dengan salah seorang menjadi imam (pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmum. Landasan Hukumnya berlandasan hukum yang terdapat dalam Al Qur'an maupun Hadits mengenai salat berjama'ah:

1. Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman: "Dan apabila kamu berada bersama mereka lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri salat bersamamu dan menyandang senjata,..." (QS. 4:102).

2. Muhammad Rasulullah SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam sholat imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).

3. Dari Ibnu Abbas RA berkata: "Saya menginap di rumah bibiku Maimunah isteri Rasulullah SAW. Nabi SAW bangun untuk salat malam maka aku bangun untuk salat bersama beliau. Aku berdiri di sisi kirinya dan dipeganglah kepalaku dan digeser posisiku ke sebelah kanan beliau." (HR. Jama'ah, hadits shahih).

Keutamaan

Adapun keutamaan shalat berjama'ah dapat diuraikan sebagai berikut :

Berjama'ah lebih utama dari pada salat sendirian. Rasulullah Muhammad  SAW bersabda: "Salat berjama'ah itu lebih utama dari pada salat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA)

Dari setiap langkahnya diangkat kedudukannya satu derajat dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido'akan oleh para malaikat. Rasulullah SAW bersabda: "Salat seseorang dengan berjama'ah itu melebihi salatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan semata-mata untuk salat, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan salat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada ditempat salat selagi belum berhadats, mereka memohon: "Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.' Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan salat semenjak menantikan tiba waktu salat." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Huraira RA, dari terjemahan lafadz Bukhari).

Terbebas dari pengaruh / penguasaan syetan. Rasulullah SAW bersabda: "Tiada tiga orangpun di dalam sebuah desa atau lembah yang tidak diadakan di sana salat berjama'ah, melainkan nyatalah bahwa mereka telah dipengaruhi oleh syetan. Karena itu hendaklah kamu sekalian membiasakan shalat berjama'ah sebab serigala itu hanya menerkam kambing yang terpencil dari kawanannya." (HR. Abu Daud dengan isnad hasan dari Abu Darda' RA).

Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda: "Berikanlah khabar gembira orang-orang yang rajin berjalan ke masjid dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat." (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Hakim).

Mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang shalat Isya dengan berjama'ah maka seakan-akan ia mengerjakan salat setengah malam, dan barangsiapa yang mengerjakan salat shubuh berjama'ah maka seolah-olah ia mengerjakan salat semalam penuh. (HR. Muslim dan Turmudzi dari Utsman RA).

Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling mendukung satu sama lain. Rasulullah SAW terbiasa menghadap ke ma'mum begitu selesai salat dan menanyakan mereka-mereka yang tidak hadir dalam salat berjama'ah, para sahabat juga terbiasa untuk sekedar berbicara setelah selesai salat sebelum pulang kerumah. Dari Jabir bin Sumrah RA berkata: "Rasulullah SAW baru berdiri meninggalkan tempat salatnya diwaktu shubuh ketika matahari telah terbit. Apabila matahari sudah terbit, barulah beliau berdiri untuk pulang. Sementara itu di dalam masjid orang-orang membincangkan peristiwa-peristiwa yang mereka kerjakan di masa jahiliyah. Kadang-kadang mereka tertawa bersama dan Nabi SAW pun ikut tersenyum." (HR. Muslim).

Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini dilatih dengan mematuhi tata tertib hubungan antara imam dan ma'mum, salnya tidak boleh menyamai apalagi mendahului gerakan imam menjaga kesempurnaan shaf-shaf salat. Rasulullah SAW bersabda: "Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekali-kali kamu menyalahinya! Jika ia takbir maka takbirlah kalian, jika ia ruku' maka ruku'lah kalian, jika ia mengucapkan 'sami'alLaahu liman hamidah' katakanlah 'Allahumma rabbana lakal Hamdu', Jika ia sujud maka sujud pulalah kalian. Bahkan apabila ia salat sambil duduk, salatlah kalian sambil duduk pula!" (HR. Bukhori dan Muslim, shahih).

Dari Barra' bin Azib berkata: "Kami salat bersama Nabi SAW. Maka diwaktu beliau membaca 'sami'alLaahu liman hamidah' tidak seorang pun dari kami yang berani membungkukkan punggungnya sebelum Nabi SAW meletakkan dahinya ke lantai. (Jama'ah)


Kriteria Imam

Kriteria pemilihan Imam salat tergambar dalam hadits Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh Abu Mas'ud Al-Badri : "Yang boleh mengimami kaum itu adalah orang yang paling pandai di antara mereka dalam memahami kitab Allah (Al Qur'an) dan yang paling banyak bacaannya di antara mereka. Jika pemahaman mereka terhadap Al-Qur'an sama, maka yang paling dahulu di antara mereka hijrahnya ( yang paling dahulu taatnya kepada agama). Jika hijrah ketaatan mereka sama, maka yang paling tua umurnya di antara mereka".

Kehadiran Jamaah Wanita di dalam Masjid

Wanita diperbolehkan hadir berjama'ah di masjid dengan syarat harus menjauhi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya syahwat ataupun fitah. Baik karena perhiasan atau harum-haruman yang dipakainya.

Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kamu larang wanita-wanita itu pergi ke masjid-masjid Allah, tetapi hendaklah mereka itu keluar tanpa memakai harum-haruman." (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Abu Huraira RA).

"Siapa-siapa di antara wanita yang memakai harum-haruman, janganlah ia turut shalat Isya bersama kami." (HR. Muslim, Abu Daud dan Nasa'i dari Abu Huraira RA, isnad hasan). 

Bagi kaum wanita yang lebih utama adalah salat di rumah, berdasarkan hadits dari Ummu Humaid As-Saayidiyyah RA bahwa Ia datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan: "Ya Rasulullah, saya senang sekali salat di belakang Anda." Beliaupun menanggapi: "Saya tahu akan hal itu, tetapi salatmu di rumahmu adalah lebih baik dari salatmu di masjid kaummu, dan salatmu di masjid kaummu lebih baik dari salatmu di masjid Umum." (HR. Ahmad dan Thabrani).

Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian melarang para wanita untuk pergi ke masjid, tetapi (shalat) di rumah adalah lebih baik untuk mereka." (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar RA).

Tentu shalat jamaah di masjid lebih banyak jamaahnya dibandingkan dengan di rumah. Hanya saja kalau untuk seorang wanita lebih baik untuk melaksanakan shalat di rumah karena dikhawatirkan dapat mengganggu kekhusyu'an shalat berjamaah.

Wallahu A'lam

Seorang rasul yang sangat mulia dan kita semua paham bahwa perilakunya Tegas sampai mengatakan ingin membakar rumah-rumah mereka! Tentu ini bukan hal yang biasa. Rasul Muhammad SAW begitu sayang umatnya sehingga tidak rela melihat mereka pada nantinya masuk ke dalam neraka jahanam. Makanya beliau begitu bersemangat mengajak umatnya untuk melakukan shalat berjamaah , terlebih lagi shalat subuh dan shalat Isya', hal ini ditegaskan dalam sebuah hadist :

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا

 وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي

 بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi seorang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung didalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. Sungguh, aku ingin menyuruh melaksanakan shalat, lalu shalat itu ditegakkan, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat bersama orang-orang. Kemudian beberapa lelaki berangkat bersamaku dengan membawa kayu yang terikat, mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat berjamaah, sehingga aku bakar rumah mereka. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Shalat subuh merupakan shalat yang agung lagi disaksikan oleh para malaikat yang bertugas di malam hari dan yang bertugas di siang hari, karena pada saat shalat subuh itulah mereka bergantian, malakait malam naik ke langit dan malaikat siang turun ke bumi. Barangsiapa yang mengerjakannya secara berjamaah -dengan syarat dia juga mengerjakan shalat isya secara berjamaah- maka sungguh seakan-akan dia telah shalat semalam suntuk. Dan orang yang mengerjakan shalat subuh maka dia berada dalam tanggungan, jaminan, dan penjagaan dari Allah. Dialah yang akan mengambilkan haknya dari orang lain yang telah melanggar haknya dengan kezhaliman. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist :

Usman bin Affan berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ

 وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim)

Jundab bin Abdillah Al-Qasri berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ

 فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim)






Semua keutamaan di atas hanya pantas didapatkan oleh seorang mukmin sejati. Karenanya shalat yang paling berat atas orang munafik adalah shalat subuh ini, karena mereka tidak pantas untuk mendapatkan semua keutamaan di atas. agar sekiranya kita bisa menjauhi sifat dan sikap yang demikian berikut ada beberapa tips agar bisa melaksanakan shalat isya' dan subuh secara berjama'ah :
  1. Tanamkan pada diri anda bahwa melakukan sholat itu suatu kebutuhan.
  2. Niatkan karena Allah. Bila niat sudah kuat, maka kemenangan akan tergapai.
  3. Selalu berdoa sebelum tidur, sebab doa itu adalah bagian dari ibadah.
  4. Usahakan jangan tidur terlalu malam agar tubuh cukup waktu istirahatnya.
  5. Lakukan dengan penuh komitmen dan hukumlah diri sendiri bila kesiangan sholat subuhnya.
  6. Sholat subuh itu akan membuat kita sehat. Apalagi bila kita telah mandi. Badan serasa segar.
  7. Tanamkan pada diri bahwa sholat berjamaah lebih baik daripada sholat sendirian
Semua adalah kembali kepada pribadi masing - masing orang, dengan niat tulus , ikhlas dan berserah diri serta bersungguh - sungguh , maka insya allah akan dimudahkan segala urusan baik ibadah duniawi maupun ukhrawi.

Wallahu A'lam

Doa Naik Kendaraan



بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

  الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ

  فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesung-guhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Maha Besar (3x) Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud , At-Tirmidzi ) 

 Wallahu A'lam

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang orang yang senang bersuci , Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji kepada-Mu. Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq di sembah selain Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan setan atau orang yang berwatak setan, berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya , dan berbuat bodoh atau dibodohi

Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatan-ku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untuk-ku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya.

Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku Ya Allah, ciptakan-lah cahaya untukku dalam kuburku dan cahaya dalam tulangku Tambahkanlah cahaya untukku, karuniakanlah bagiku cahaya di atas cahaya

DO’A KETIKA MENGENAKAN PAKAIAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

الحَمْدُ للهِ اللذِي كَسَانِي هَذَا وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-pada-Nya tanpa daya dan kekuatan dari-ku.”

DO’A KETIKA MENGENAKAN PAKAIAN BARU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ

 وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

“Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang ia diciptakan karena-nya”

Wallahu A'lam

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Assalamualaikum Wr Wb merupakan merupakan doa kepada sesama muslim. Walaupun ucapan salam merupakan doa kepada sesama muslim, kita juga dibolehkan mengucapkan salam kepada suatu forum walaupun didalam forum tersebut tidak bisa dipastikan 100% muslim. Nabi Muhammad SAW pun pernah mengucapkan salam kepada majelis yang bercampur dengan orang Yahudi. Karena ucapan salam hanya untuk sesama muslim, kita bisa menyapa non muslim dengan ucapan (greeting) yang disenangi oleh mereka. Terkadang ada juga orang non muslim mengucapkan salam kepada kita (muslim), kita bisa menjawabnya dengan ucapan “wa’alaikum”.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh memiliki arti “Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu.” Arti yang sangat bagus sekali bukan. Salam merupakan doa sesama umat muslim yang didalamnya berisi banyak kebaikan.

Wallahu A'lam

Setiap manusia pasti pernah melakukan salah dan dosa. Akan tetapi, sebaik-baik diantara mereka adalah yang segera memohon ampun kepada Allah atas dosanya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,

ومن يعمل سوءا أو يظلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما

Siapa yang melakukan perbuatan jelek (suu’) atau mendholimi dirinya, kemudian memohon ampun kepada Allah, maka ia akan menemukan bahwa Allah itu maha pengampun dan penyayang.

Selain seruan untuk bertaubat, dan janji Allah untuk mengampuni dosa mereka yang bertaubat dengan sesungguhnya, ayat tersebut di atas juga menunjukkan bahwa perbuatan dosa sesungguhnya merupakan bentuk kedholiman terhadap diri kita sendiri. Manusia akan merugi dengan dosa yang dilakukannya.
Allah juga berfirman,

واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات

Dan mohon ampunlah (kepada Allah) atas dosamu dan kamu mukmin laki-laki dan perempuan.
Jika kita memohon ampun lepada Allah dengan jujur dan keinginan kuat untuk tidak mengulanginya, insyaAllah dosa kita pun akan diampunkan oleh Allah, sebagaimana firman-nya,

واستغفر الله إن الله كان غفورا رحيما

Mohon ampunlah lepada Allah, sesungguhnya Allah maha pengampun dan penyayang.
Dalam ayat lain Allah berfirman,

فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا


Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah lepada-Nya, karena sesungguhnya ia penerima taubat.
Bahkan jika kita sungguh-sungguh dengan taubat kita dan menjaga ketaqwaan kepada Allah, maka Allah pun nantinya akan memberikan penghidupan yang baik berupa sorga,

للذين اتقوا عند ربهم جنات

Bagi mereka yang bertakwa, disisi Allah kebun-kebun (sorga)
Selain itu, di dunia ini sekali pun, Allah tidak akan mengadzab kita selama kita senantiasa memohon ampun kepada Allah dan menjadikan syariat nabi sebagai tuntunan hidup.
Allah berfirman,

وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون

Maka tidaklah Allah akan mengadzab mereka sementara engkau ada bersama mereka (wahai Muhammad), dan tidak pula Allah akan mengadzab mereka sementara mereka senantiasa memohon ampun (kepada Allah).
Demikianlah istighfar mempunyai peran yang sangat penting dalam hidup kita. Bahkan kebiasaan istighfar ini merupakan ciri-ciri hamba yang dicintai oleh Allah.
Allah berfirman,

والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون

Dan mereka yang jika melakukan kejelekan atau mendholimi diri mereka, segera ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Dan siapa yang mengampuni dosa selain Allah, dan tidaklah mereka mengulangi (kesalahan) yang mereka lakukan, dan mereka mengetahui.
Demikianlah janji Allah bagi mereka yang bertaubat dengan taubat sesungguhnya. Bukan yang bertaubat kemudian mengulangi kesalahan. Atau dalam masyarakat kita sering disebut sebagai taubat sambal.
Maka, sebagai muslim yang baik hendaknya kita senantiasa membiasakan diri untuk selalu memperbanyak istighfar kepada Allah.
Rasulullah yang sudah Allah jamin kemaksumannya, beliau beristighfar seratus kali dalam sehari.
Beliau rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

وإني لأستغفر الله في اليوم مئة مرة

Dan sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.
Dari Ibnu Umar, diriwayatkan bahwa Rasulullah sering beristighfar dengan ucapan berikut,

رب اغفر لي وتب علي إنك أنت التواب الرحيم


Ya Allah, ampunilah aku dan aku bertaubat (kepada-Mu), sesungguhnya Engkau maha pengampun dan penyayang.
Ibnu Mas’oed berkata bahwa, Rasulullah juga sering bersitighfar dengan bacaan,

أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه


Aku mohon ampun kepada Allah, Zat yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Ia, yang maha hidup dan terus mengurus (makhluk-Nya), aku bertaubat kepada-Nya.
Sementara istighfar harian (sayyidul istighfar) yang sering dibaca rasulullah adalah,

اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت خلقتني وأنا عبدك وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت أعوذ بك من شر ما صنعت أبوء لك بنعمتك علي وأبوء بذنبي فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

Ya Allah, engkau adalah Rabb- ku, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Yang menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan memenuhi janji-janjiku kepada-Mu sepenuh kemampuanku.Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan jelekku. Aku mengakui nikmat yang Engkau berikan kepadaku, dan aku pun mengakui dosa-dosaku. Maka ampunkanlah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.
Rasulullah bersabda,

من قالها من النهار موقنا بها فمات من يومه قبل أن يمسي فهو من أهل الجنة ومن قالها من الليل وهو موقن بها فمات قبل أن يصبح فهو من أهل الجنة

Barang siapa yang membacanya (sayyidul istighfar di atas) pada siang hari dan ia yakin dengannya kemudian meninggal pada hari itu sebelum sore, maka ia merupakan ahli sorga. Dan barang siapa yang membacanya pada malam hari dan ia yakin dengannya kemudian meninggal sebelum subuh, maka ia merupakan ahli sorga.
Suatu janji dan ganjaran yang cukup menggiurkan bagi hamba yang merindukan sorga Allah.
Dari Tsauban radi’allahu anhu, diriwayatkan bahwa rasulullah biasanya beristighfar tiga kali setelah sholat, kemudian membaca,

اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت ياذا الجلال والإكرام

Ya Allah, atas-Mu keselamatan, dari-Mu keselamatan, keberkatan atas-Mu wahai yang maha mulia dan agung.
Dari Ai’syah diriwayatkan bahwa sebelum meninggal, Rasulullah banyak beristighfar dengan mengucapkan,

سبحان الله وبحمده أستغفر الله وأتوب إليه

Maha suci Allah dengan segala kemuliaan-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Jika Rasulullah sedemikian banyaknya beristighfar kepada Allah sementara beliau adalah manusia paling suci dan sudah dijamin sorga oleh Allah, maka bagaimana dengan kita?.

Disunting dari رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين-للإمام أبو زكريا يحيى بن شرف النووي

Berdoa dianjurkan kapan saja dan dimana saja, akan tetapi khusus untuk permintaan yang khusus dan teramat khusus ada saat-saat istimewa , yang jika dilakukan dengan sungguh - sungguh maka insya Allah akan dikabulkan. Sungguh berbeda Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia, ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai hamba yang meminta kepada-Nya, 

Menurut sebagian ulama' ada waktu - waktu tertentu dimana kita bisa memohon / berdo'a kepada Allah Subhanahu Wata'ala yang bila mana kita melakukan permohonan disaat - saat itu maka akan lebih mendapatkan kesempatan untuk diterima dan dikabulkan do'anya.

1. Waktu sepertiga malam terakhir saat orang lain terlelap dalam tidurnya. Allah SWT berfirman:


“Rabb (Tuhan) kita turun di setiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia berfirman : Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan Amr bin Ibnu Abasah mendengar Nabi SAW bersabda :

“Tempat yang paling mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia dalam sujudnya dan jika ia bangun melaksanakan shalat pada sepertiga malam yang akhir. Karena itu, jika kamu mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada saat itu maka jadilah.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan di-shahih-kan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, dan Al-Albani).

2. Waktu antara adzan dan iqamah, saat menunggu shalat berjama’ah. Sayangnya waktu mustajab ini sering disalahgunakan sebagian umat Islam yang kurang mengerti sunnah atau oleh orang yang kurang menghargai sunnah, sehingga diisi dengan hal-hal yang tidak baik dan tidak dianjurkan Islam, membicarakan urusan dunia, atau hal-hal lain yang tidak bernilai ibadah.

Ketentuan waktu ini berdasarkan hadits Anas bin Malik RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Doa itu tidak ditolak antara adzan dan iqamah, maka berdoalah!” (HR. Ahmad).

Juga berdasarkan hadits Abdullah bin Amr Ibnul Ash RA, bahwa ada seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para muadzin itu telah mengungguli kita”, maka Rasulullah SAW bersabda: “Ucap-kanlah seperti apa yang diucapkan oleh para muadzin itu dan jika kamu selesai (menjawab), maka memohonlah, kamu pasti diberi.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban, di-hasan-kan oleh Al-Arnauth dan Al-Albani).

3. Pada waktu sujud.

Yaitu sujud dalam shalat atau sujud-sujud lain yang diajarkan Islam. Seperti sujud syukur, sujud tilawah dan sujud sahwi. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

“Keberadaan hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim).

Dan hadits Ibnu Abbas RA, ia berkata : “Rasulullah SAW membuka tabir (ketika beliau sakit), sementara orang-orang sedang berbaris (shalat) di belakang Abu Bakar RA, maka Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak tersisa dari mubasysyirat nubuwwah (kabar gembira lewat kenabian) kecuali mimpi bagus yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan untuknya. Ingatlah bahwasanya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika ruku’ atau ketika sujud. Adapun di dalam ruku’, maka agungkanlah Allah dan adapun di dalam sujud, maka giat-giatlah berdoa, sebab (hal itu) pantas dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim).

4. Setelah shalat fardlu.

Yaitu setelah melaksanakan shalat-shalat wajib yang lima waktu, termasuk sehabis shalat Jum’at. Allah berfirman : “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan selesai shalat.” (QS. Qaaf: 40).

Juga berdasarkan hadits Umamah Al-Bahili, ia berkata : “Rasulullah SAW ditanya tentang doa apa yang paling didengar (oleh Allah), maka beliau bersabda: “Tengah malam terakhir dan setelah shalat-shalat yang diwajibkan.” (HR. At-Tirmidzi).

Karena itu Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, dianjurkan bagi imam dan makmumnya serta orang-orang yang shalat sendirian memper-banyak dzkir, wirid dan doa setelah selesai shalat fardhu. Dan dianjurkan membaca dengan pelan, kecuali jika makmum belum mengerti maka imam boleh mengeraskan agar makmum menirukan. Setelah mereka mengerti, maka semua kembali pada hukum semula yaitu sirri (samar-samar).

5. Pada waktu-waktu khusus

Tetapi tidak diketahui dengan pasti batasan-batasannya. yaitu sesaat di setiap malam dan sesaat setiap hari Jum’at. Hal ini berdasarkan hadist Jabir RA, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya di malam hari ada satu saat (yang mustajab), tidak ada seorang muslim pun yang bertepatan pada waktu itu meminta kepada Allah kebaikan urusan dunia dan akhirat melainkan Allah pasti memberi kepadanya.” (HR. Muslim).

Hadits Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut hari Jum’at, beliau bersabda :

Di dalamnya ada satu saat (yang mustajab) tidaklah seorang hamba muslim yang kebetulan waktu itu sedang mendirikan shalat (atau menunggu shalat) dan memohon kepada Allah sesuatu (hajat) melain-kan Allah pasti mengabulkan permohonannya.” dan Nabi mengisyaratkan dengan tangannya akan sedikitnya saat mustajab itu. (HR. Al-Bukhari).

Di dalam hadist Muslim dan Abu Dawud dijelaskan: “Yaitu waktu antara duduknya imam (khatib) sampai selesainya shalat (Jum’at)”. Inilah riwayat yang paling shahih dalam hal ini. Sedangkan dalam hadist Abu Dawud yang lain Nabi memerintahkan agar kita mencarinya di akhir waktu Ashar.

An-Nawawi rahimmahullah menjelaskan bahwa para ulama berselisih dalam menentukan saat ijabah ini menjadi sebelas pendapat. Yang benar-benar saat ijabah adalah di antara mulai naiknya khatib ke atas mimbar sampai selesainya imam dari shalat Jum’at. Hal ini berdasarkan hadist yang sangat jelas dalam riwayat Muslim di atas.

Sepertiga akhir dari waktu malam.
Ketika adzan.
Waktu antara adzan dan iqamah.
Setelah shalat-shalat fardlu.
Ketika imam naik ke atas mimbar pada hari Jum’at sampai selesainya shalat Jum’at pada hari itu.
Waktu terakhir setelah Ashar”.

Jika doa tadi bertepatan dengan kekhusyu’an hati, merendahkan diri di hadapan Sang Penguasa. Menghadap kiblat, berada dalam kondisi suci dari hadats, mengangkat kedua tangan, memulai dengan tahmid (puji-pujian), kemudian membaca shalawat atas Muhammad. Lalu bertobat dan beristighfar sebelum menyebutkan hajat. Kemudian menghadap kepada Allah, bersungguh-bersungguh dalam memohon dengan penuh kefaqiran, dibarengi dengan rasa harap dan cemas. Dan bertawassul dengan asma dan sifatNya serta mentauhidkanNya. Lalu ia dahului doanya itu dengan sedekah terlebih dahulu, maka doa seperti itu hampir tidak tertolak selamanya. Apalagi jika memakai doa-doa yang dikabarkan Nabi SAW sebagai doa yang mustajab atau yang mengandung Al-Ismul-A’zham (Nama Allah Yang Mahabesar).” 

Ya Allah, kabulkanlah doa-doa kami"

Wallahu A'lam