Showing posts with label Tawakkal. Show all posts
Showing posts with label Tawakkal. Show all posts

Hormati hak asasi manusia , Karena itu fitrah manusia ,  Kita semua bebas memilih , Jalan hidup yang disukai
Tuhan pun tidak memaksakan , Apa yang hamba-Nya lakukan

Terapkan demokrasi Pancasila , Sebagai landasan negara kita , Janganlah suka memperkosa , Kebebasan warga negara , Karena itu bertentangan , Dengan perikemanusiaan dan tentunya hukum Al Quran

Kebebasan beragama (itu hak asasi)
Kebebasan berbicara (itu hak asasi)

Kita bebas untuk melalukan segala-galanya , Asal saja tidak bertentangan dengan Pancasila

Kebebasan berusaha (itu hak asasi)
Kebebasan tuk berkarya (itu hak asasi)

Kita bebas untuk melalukan segala-galanya,  Asal saja tidak bertentangan dengan Al Qur'an Dan Sunnah rasul Nya.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat janji-janji Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.

Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti suatu keyakinan. Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang supaya kamu mencari karunia Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mendengar

Yunus : 62 - 67











Shalatnya Abu Bakar Ash Shiddiq, Beliau telah menghabiskan hidup dan segenap jiwa raganya, harta kekayaannya serta waktunya untuk diinfakkan dan berjihad di jalan Allah. Termasuk memberikan pelayanan dalam dakwah dan penyampaian wahyu. Dialah sahabat Abu Bakar yang nama lengkapnya Abdullah bin Abi Quhafah Al Qurasyi At Tamimi yang terkenal dengan sebutan Abu Bakar Asy Syiddiq.

Beliau sangat mudah mencucurkan air mata saat membaca Al Quran dalam shalatnya. Hal ini disebabkan karena banyaknya pengalaman hidup beliau bersama Al Quran. Sehingga beliau tidak mampu menahan perasaannya dari kejadian kejadian yang pernah dialaminya ketika membaca Al Quran.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Mereka melalui Abu Bakar yang sedang shalat bersama dengan yang lainnya.” Aisyah menuturkan, Saya pun berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang laki laki yang lembut hatinya, apabila telah membaca Al Quran beliau tidak mampu menahan cucuran air mata dari keduanya.” (HR Muslim)

Adapun kekhusyukan beliau serta tangisan beliau di dalam shalat, benar-benar berpengaruh besar kepada orang-orang di sekelilingnya.Hal ini menyebabkan orang-orang Quraisy yang menguasai Mekah pada waktu itu mengajukan sejumlah syarat kepada beliau ketika beliau menunaikan shalat.

Akhirnya kaum kafir Quraisy menemui Ibnu Ad Daghinah yang saat itu memberikan jaminan keamana kepada Abu BakarAsh Shiddiq. Mereka berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Ad Daghinah, suruhlah Abu Bakar untuk beribadah kepada Rabbnya di rumahnya, hendaklah dia shalat dan membaca apa yang dia kehendaki dan janganlah dia menyakiti kami. Sesungguhnya kami khawatir perkara itu menjadi fitnah bagi anak dan istri kami.”

Ibnu Ad Daghinah pun mengatakan hal itu kepada Abu Bakar, sehingga beliau mulai beribadah kepada Allah di rumahnya, dengan tidak mengeraskan shalatnya begitupun dengan bacaannya.

Kemudian Abu Bakar mulai membangun sebuah masjid di halaman rumahnya, beliau shalat dan membaca Al Quran di masjid itu. Pada saat itu, berkumpullah istri-istri dari kalangan orang musyrik dan anak-anak mereka, mereka begitu kagum akan shalat yang didirikan Abu Bakar dengan terus memperhatikannya. Abu Bakar adalah seorang laki laki yang sering menangis, beliau tidak bisa menahan air matanya ketika membaca AL Quran (Kisah ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Ibnu Hiban)

Sahl bin Sa’d dia berkata, “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak pernah melirik ketika dalam shalat.” (Fadhail Ash Shahabat I/208, Imam Ahmad)

Mujahis menuturkan, “Keadaan Ibnu Az Zubair ketika dia berdiri menunaikan shalat, seperti sebuah kayu yang kokoh (tidak bergerak).” Dikisahkan pula bahwa Abu Bakar pun seperti itu ketika shalat. Abdurrazaq berkata, “Penduduk Mekah menuturkan bahwa Ibnu Zubair mencontohshalat dari Abu Bakar, dan Abu Bakar mencontohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fadhail Ash Shahabat I/208, Imam Ahmad)

Wallahu A'lam

Allah SWT menegaskan dalam Alquran, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doamu.”lam ayat yang lain lain Allah SWT mengemukakan, “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah Aku ini dekat, Aku mengabulkan doa apabila mereka berdoa kepada-Ku...”

Namun, banyak orang yang malas berdoa. Atau, kalaupun berdoa, dia sering tidak yakin. Apalagi bila ternyata setelah dia berdoa, apa yang dia minta tidak langsung Allah kabulkan, atau Allah memberikan yang lain, bukan seperti yang di minta. mustinya hal tersebut justru mengajarkan kepada kita agar tidak pernah lelah berdoa. Setelah melalui perjuangan berliku dan tidak pernah menyerah berdoa, hingga akhirnya sampai pada kesadaran bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Berbagai persoalan hidup dengan mengutamakan kekuatan doa ini memaparkan, ketika kita mohon kepada Tuhan kekuatan, Dia memberi kita kesulitan agar kita menjadi kuat; ketika kita minta pada Tuhan kebijaksanaan, Dia dia memberi kita masalah untuk dipecahkan; ketika kita memohon pada Tuhan kesejahteraan, Dia memberi kita akal untuk berpikir; ketika kita minta kepada Tuhan keberanian, Dia memberi kita kondisi bahasa untuk kita atasi; ketika kita minta pada Tuhan sebuah cinta, Dia memberi kita orang-orang bermasalah untuk kita tolong; ketika kita minta pada Tuhan bantuan, Dia memberi kita kesempatan.

Salah satu pelajaran berharga yang harus kita ketahui adalah bahwa “Tuhan memang tidak pernah ada habisannya untuk memperlihatkan kebesaran-Nya, dan tuhan yang dalam hal ini Allah Subhanahu Wata'ala senantiasa memperlihatkan tanda - tanda kebesaran-Nya serta senantiasa mengurus makhluk-Nya" (al ayat)

Siapa saja yang ingin meraih hidup dan menikmati hidup lebih baik dan siapa saja yang ingin menjadikan dirinya lebih baik dari waktu ke waktu dengan kekuatan doa, maka senantiasalah melaksanakan segala Perintah-Nya dan menjauhi segala Larangan-Nya. 

berdoa dan berusaha serta kemudian di iringi dengan tawakkal akan membawa ketenangan menuju Tangga-Tangga Hati Yang Tentram.

Wallahu A'lam

Allah SWT menurunkan risalah Islam kepada manusia mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW dalam bentuk kitab-kitab suci dan suhuf-suhuf, semata-mata hanya untuk kemaslahatan manusia. Dengan kata lain, Allah SWT sama sekali tidak punya kepentingan apakah risalahnya itu ditaati atau tidak, manusia diberi hak sepenuhnya untuk memilih antara beriman atau kufur (al-Kahfi: 29).

Bagi yang memilih beriman, Allah SWT memperingatkan, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan tidak menelan ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih” (al-Baqarah: 174). Peringatan ini mengisyaratkan bahwa pasti akan ada manusia yang berusaha menyembunyikan kebenaran Allah.

Kata yaktumuuna (menyembunyikan) mengandung pengertian sesuatu itu sudah ada terlebih dulu lalu dicoba disembunyikan, yang dalam konteks ayat ini adalah ‘kebenaran yang datang dari Allah’. Konotasi ‘menyembunyikan’ juga bisa diartikan sebagai sebuah rekayasa perlawanan, seolah-seolah yang datang bukan kebenaran yang sesungguhnya. Misalnya, yang datang kebenaran Adzab, tapi yang dimunculkan bukan adzab.

Dahulu para rasul selalu dihadapkan dengan keberadaan manusia-manusia semacam ini sehingga akhirnya tidak ada kitab suci selain Alquran yang bisa dipertahankan kesuciannya. Mereka tidak sekadar adh dhal (orang yang sesat), tapi al mudhillu (sesat dan menyesatkan). Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa ketika Alquran diturunkan, Allah SWT tidak lagi menyerahkan kepada manusia untuk menjaganya "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya"(al-Hijr: 9).


Kendati Alquran dijaga langsung oleh Allah SWT sehingga kesuciannya akan tetap terjaga sampai kiamat, sebagian dari kebenaran Alquran tetap ‘tersembunyi’ bagi mayoritas Muslim yang awam. Semua ini terjadi karena sebagian ulama mengungkapkan, para da'i sudah enggan mengangkat kebenaran-kebenaran Alquran yang memang sangat bertentangan dengan kebatilan yang sedang dinikmati oleh mayoritas mereka yang berkuasa dan tergiur serta lalai dengan kekuasaan, bahkan mungkin mereka sudah terlampau berani dan mengingkari serta sebagian lagi mungkin karena takut dan sebagian lagi karena mengetahui yang lahiriah saja sedangkan negeri akherat mereka lalai (al ayat).

Mereka sembunyikan kebenaran ayat-ayat Alquran lewat bahasa verbal mereka dengan menyatakan bahwa Alquran sudah tidak relevan untuk kehidupan masa kini. Hukum potong tangan bagi pencuri, qisas bagi pembunuh, rajam atau cambuk bagi pezina adalah bertentangan dengan hak asasi manusia. Sudah sangat langka yang membahas ayat-ayat jihad karena takut dituduh ‘mbahnya’ teroris ataupun radikal.

Paling tidak ada empat ancaman bagi orang-orang yang menyembunyikan kebenaran Allah dan menjualnya dengan harga yang murah. Pertama, tindakan mereka tak ubahnya dengan menyiapkan bara api neraka sepenuh perut mereka. Allah mengancam mereka akan menjadi penghuni neraka jahanam. Kedua, Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat. Ketiga, Allah SWT tidak akan pernah menyucikan mereka dari kekufuran dan dosa yang mereka perbuat. Keempat, siksa yang teramat pedih. Na’udzu billah min dzalik!

Wallahu A’lam bish shawab.

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Al Maa'idah : 120

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah. Tidak patut kita, manusia, merasa senang dengan kelebihan yang kita miliki. Harta, untuk yang kaya. Jabatan, untuk yang punya jabatan. Rupa, untuk yang diberi kecantikan / ketampanan. Bahkan orangtua, anak-anak, semua hanya milik Allah. Kita hanya dititipi, seperti penitipan / tempat parkir pada perumpamaannya dan pada akhirnya kelak semua yang ada pada diri kita akan dimintai pertanggungjawaban. Apakah kita mensyukuri titipan-Nya, menjaganya, memberinya hak dan kewajiban sesuai aturan pemiliknya ? Apakah kita sudah memposisikan diri sebagai "yang dititipi" ?

Manusia memang sombong. Dulu, kala Allah mengamanahkan bumi dan isinya kepada gunung, gunung yang kokoh menjulang di permukaan bumi ini menolak. Begitu juga yang lainnya. Tapi manusia, dengan angkuhnya, menyanggupi melaksanakan amanah berat itu. Begitulah manusia, yang harus memikul amanah sebagai khalifah di muka bumi. Selayaknya kita kembalikan lagi semua kepada pemilik-Nya, dengan tanpa merasa memiliki sedikit pun. Dunia ini hanyalah fatamorgana, jangan sampai tertipu.

"Barangsiapa yang bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Dan barangsiapa kufur, maka sesungguhnya adzab Allah sangat pedih." Mudah saja bagi Allah mencabut nikmat yang kita miliki saat ini. Begitu juga, mudah saja bagi Allah memberikan nikmat dari arah yang tidak disangka-sangka kepada kita.

Sesungguhnya semua hanya milik Allah. Kita hanya diwajibkan berikhtiar, dengan rambu-rambu yang diberikan oleh sang pemilik. Selanjutnya tinggal terserah Allah saja apakah mau memberikan yang kita minta atau tidak. Yang pasti, Allah menyuruh kita terus berdo'a, dan Allah berjanji akan mengabulkan tiap do'a hamba-Nya. "Ud'uunii astajib lakum." Berdo'alah, Allah pasti mengabulkan. Bukan hanya itu, Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi hambaNya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Orang yang sabar adalah orang yang jika terkena musibah maka dia memahami dan menghayati kalimah “innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” (QS. al-Baqarah) karena sesungguhnya semua milik Allah dan sesungguhnya semua akan kembali kepada Allah .

Semuanya memang milik Allah. Allah adalah Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu yang lain), sedangkan manusia adalah miskin selalu membutuhkan sesuatu yang lain. Saat manusia lahir sebagai bayi, dia dalam keadaan telanjang bulat, tidak membawa apa-apa, dan belum tahu apa-apa. Saat manusia mati sebagai mayat, dia dalam keadaan kaku, tidak membawa apa-apa kecuali amal dan kain putih dan sudah tidah tahu apa-apa.


Segalanya memang milik Allah. Manusia hanya sekedar “dipinjami” atau “dititipi” oleh Allah. Apa saja yang diperoleh, dirasakan dan dipakai oleh manusia hanya sekedar “barang pinjaman” atau “barang titipan” milik Allah. Suatu saat barang itu akan diminta oleh yang pemiliknya.

Hai seluruh ummat manusia ! Nyawamu, anggota tubuhmu, dan semua kemampuanmu hanyalah sekedar “barang pinjaman” (titipan) milik Allah Subhanahu Wata'ala yang semuanya pasti akan dikembalikan kepada-Nya. Kewajibanmu adalah mengabdikan diri beribadah kepada Allah semata sebagai ‘abdullah' dan mengelola kehidupan dunia menurut petunjuk-Nya (sebagai khalifah), bukan untuk hidup menurut nafsumu.

Kesabaran dan usaha yang keras menjadi kunci untuk mengatasi krisis yang masih melanda dunia. Kesadaran yang mendalam bahwa semua milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah akan membawa pada kehidupan yang tenang, damai, dan optimis. Kesadaran ini juga harus diikuti dengan usaha sungguh-sungguh untuk mengatasi problem yang dihadapi.

Wallahu a'lam bishshawab.

Lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam merupakan hamba Allah yang gemar memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin mendidik ummatnya agar selalu menghayati bahwa manusia selalu dalam keadaan banyak berbuat dosa. Sehingga manusia selalu membutuhkan ampunan Allah. Manusia selalu dalam keadaan cenderung menyimpang dari jalan yang lurus. Sehingga manusia perlu untuk selalu bertaubat (kembali) kepada Allah dan jalan Allah.

Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan suatu lafal doa yang disebut Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar). Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memotivasi orang-orang beriman melalui lafal doa Sayyidul Istighfar. Barangsiapa yang setiap hari membiasakan dirinya membaca doa tersebut dengan penuh keyakinan, maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin pelakunya sebagai penghuni surga di akhirat kelak.


Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Penghulu Istighfar ialah kamu berkata: “Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta"


"(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilaha selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).”

Barangsiapa yang membaca doa ini di sore hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang membaca doa ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhary 5831)


Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang gemar mengingat-Mu, gemar memohon ampunan-Mu dan gemar bertaubat (kembali) ke jalan-Mu. Amin ya Rabb.

Wallahu A'lam

Kegelisahan terlahir akibat tidak adanya keseimbangan antara harapan dari hati, pikiran dan kenyataan. Adanya permasalahan hidup manusia muncul kepermukaan lebih disebabkan oleh hanya semata-mata dipersepsikan pada logika berpikir yang sempit. Itulah sebabnya, mengapa kebanyakan dari kita mendefinisikan masalah berupa kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang terjadi. lebih dari itu, harusnya dalam hidup seorang mukmin segala apa yang terjadi dalam kehidupan ini diposisikan semata-mata atas kehendak-Nya.

Bukan mengandalkan semata-mata pada persepsi akal manusia, sebab kadang kala akal ini terselimuti oleh tumpukkan kotoran-kotoran hawa nafsu manusia itu sendiri. Allah Swt dalam QS. Taghaabun [64]: 11, mengingatkan kepada kita bahwa "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya"

Ketidakadaan atau tenggelamnya kesadaran pola pikir seperti itu, maka akan melahirkan kegelisahan hidup manusia. Pasalnya bagi manusia model demikian tidak menyadari sepenuhnya akan sunnatullah kehidupan manusia yang selalu dihadapkan pada sejumlah besar tantangan. yang pada hakikatnya bukan untuk dihindari, melainkan justru untuk dilakoni. Hidup itu sendiri adalah tantangan, dan ketika ada masalah maka yang harus dilakukan oleh manusia adalah memperbaikinya. Mengapa kita mesti menghindar? Di sinilah kadang-kadang kita lupa pada kesejatian diri. karena "sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri"


Di mana pun dan kapan pun kita hidup, masalah dan tantangan serta rintangan akan selalu datang menjemput. Hidup adalah inheren, sekaligus identik, dengan masalah dari tantangan itu sendiri. Kalau kita menghadapinya dengan hati tegar dan ikhlas, semua masalah itu akan sirna. Kalau kita tertelikung dengan masalah, sesungguhnya bukan masalah itu sendiri sebagai masalah dan akan semakin menambah masalah. karena sejatinya yang menjadi masalah adalah cara kita sendiri yang salah dalam menghadapi masalah.

Bagi sebagian orang kegelisahan hati itu muncul didasari oleh perilaku kita yang belum sampai ke tingkat yakin akan sangat dekatnya pertolongan Allah. Artinya segala persoalan dan kesulitan yang ada dan menimpa kita sekecil apapun justru seringkali membuahkan rasa cemas dan gudah gulana yang membuat gelisah hatinya.

Kondisi hati yang gelisah akan berdampak pada persepsi menyikapi hari demi hari hidupnya dengan aneka keluh kesah, amarah, dan perilaku yang serba salah. Lebih jauh kondisi ini menyebabkan hidup terasa sumpek, mumet, rumit, dan membuat sakit kepala menghinggapi kita.

Kesannya, segala yang tersaji di hadapan kita, terasa semakin membebani hati dan pikirannya. disinilah Pentingnya Meredam Resah dan Gelisah yang ada dihati. Keberadaan masalah dalam hidup adalah sesuatu yang wajar. Namun, manakala sikap kita yang tidak tepat dalam menghadapi dan memposisikan masalah tersebut, maka inilah sebenarnya yang menjadi awal munculnya penyakit gelisah hati. Adanya gelisah hati dalam hidup kita, bila tidak hati-hati tentu tidak jarang akan menjadi jalan yang terbentang bagi terjerumusnya ke jurang kesalahan yang semakin menambah masalah.

Sehingga bukannya diri ini terhindar atau melupakan segala petaka gelisah hati, justru malah menambah berat beban langkah hidupnya. Inilah buah dari salah sikap dan perilaku kita dalam memaknai masalah kegelisahan hati. Untuk itu, sedini mungkin setiap kita sudah seharusnya belajar untuk meredam setiap masalah yang dapat memunculkan gelisah hati. Inilah kunci awal untuk mencapai ketentraman hidup.

Dengan demikian, dalam hidup manusia sangat diperlukan adanya perilaku meredam gelisah hati. Pentingnya meredam gelisah hati ini, tidak lain didasarkan pada kenyataan bahwa perasaan cemas, gelisah, keluh kesah, dan amarah jelas tidak akan mengubah apa pun, malahan justru akan menyengsarakan hati dalam jurang kegelisahan berikutnya.

Bersambung Ke Catatan Selanjutnya Insya Allah 

Wallahu A'lam

5 Tanda Orang Bertaqwa menurut Sayyidinna Usman bin Affan :

Tidak suka bergaul kecuali bergaul dengan orang-orang yang sholeh / sholehah, yang menjaga lisannya.

Seperti penggalan lagu Tombo Ati, salah satunya adalah bergaul dengan orang-orang sholeh karena kita akan mendapatkan banyak dakwah, masukan, kritik yang membangun dan ketenangan bila mendapatkannya dari orang-orang yang hanya mengucap kebenaran.

Jika mendapat musibah duniawi, ia menganggapnya sebagai ujian dari Allah SWT.

Salah satu yang mengangkat diri kita di mata Allah adalah lulusnya kita dari ujian yang diberikanNya. Ujian bukan hanya yang bersifat bala musibah, namun kenikmatan dalam hidup ini adalah ujian yang lebih besar. Bila diberikan musibah orang lebih mudah ingat kepada Allah namun saat diberi ujian kenikmatan, saat itulah Allah benar-benar sedang menguji kita.

Jika mendapat musibah dalam urusan agama ia akan sangat menyesalinya.

Teringat cerita Syaidina Umar bin Khattab yang ketinggalan satu rakaat shalat Ashar di Masjid hanya karena beliau sedang asyik berada dalam kebun kurmanya. Mengetahui dirinya telah tertinggal satu rakaat dalam berjamaah, Syaidina Umar pun begitu menyesali perbuatannya sehingga kebun kurma yang dianggap sebagai penyebab musibah itu akhirnya dijual.

Tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan haram & tidak sampai kenyang.

Ini merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah yang berbunyi ‘Makanlah sebelum engkau lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang‘. Sungguh suatu perintah yang seakan-akan mudah dilaksanakan namun saat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari betapa sulitnya melakukan hal itu. Dari sinilah bentuk ketakwaan seorang mukmin dibentuk.

Apabila memandang orang lain, orang itu lebih sholeh dari dirinya. Tapi bila memandang diri sendiri, dirinya adalah orang yang penuh dosa.

Nampaknya banyak diantara kita, apalagi yang telah diberikan hidayah dari Allah berupa kenikmatan dalam beribadah, kemudahan dalam bertahajud, keringanan dalam berpuasa sunah atau keindahan dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, mudah menganggap dirinya lebih sholeh dibanding lainnya. Padahal sikap merendah adalah salah satu yang dianjurkan oleh Rasul. Belajar tawadhu’ dan senantiasa melakukan amal ibadah tanpa membandingkan dengan orang lain adalah start yang baik untuk meningkatkan kualitas ketakwaan diri.







Ada 4 waktu yang tidak boleh disia-siakan, yaitu:

Waktu untuk bermunajat

Setiap saat, bahkan saat mau tidur pun disunnahkan bertasbih, berzikir atau membaca Kalamullah. Bila kita tertidur saat kita sedang bermunajat, insya Allah kita dianggap sedang berdoa selama kita tidur, subhanallah.

Waktu untuk meminta maaf dan berterima kasih

Tanpa pernah tahu kapan kepulangan kita ke Illahi Robbi, manfaatkan waktu yang ada untuk meminta maaf atas segala kesalahan kita dan berterima kasih kepada siapa-siapa yang telah membantu kita dalam hal apapun. Terutama bagi yang masih memiliki orang tua, sekarang juga kirim doa dan hubungi mereka, ucapkan maaf dan terima kasih atas segala yang telah mereka lakukan kepada kita.

Waktu untuk mengevaluasi diri

Bertafakur, mengingat-ingat kembali dosa yang pernah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali adalah perbuatan terpuji. Kadang dengan seringnya kita mengevaluasi diri kita, apa-apa yang menjadi kekurangan maupun kelebihan dalam hidup ini, dapat menjadikan modal yang berharga untuk masa depan.

Waktu untuk beramal sholeh

Tidak perlu menunggu tanggal gajian, seberapapun yang kita miliki saat melihat ada yang sedang membutuhkan, mari ulurkan tangan. Allah akan melihat sekecil apapun amal ibadah kita dan akan menggantinya berlipat ganda apabila keikhlasan ada dibalik perbuatan kita membantu sesama.

Wallahu A'lam

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman syurga dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka

sebelum itu di dunia

adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin. dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Dan di langit terdapat sebab-sebab rezkimu dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu

Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar akan terjadi seperti perkataan yang kamu ucapkan

Adz Dzaariyaat : 15 - 23

Hidup ini tak ubahnya seperti sebuah drama atau sandiwara. Setiap orang mempunyai perannya masing-masing. Setiap dari peran itu mempunyai konskuensi tersendiri. Namun terkadang dalam waktu tertentu seolah kita berada di bangku penonton menyaksikan drama tersebut. Sehingga kita bisa menilai, memprotes, dan mengkiritik atas perbuatan dari lakon tertentu dan alur ceritanya. Sementara ketika kita menjadi dari lakon itu sendiri. Kita hanya menjalankan peran yang ada, tanpa bisa menilai, mengkritik dan memprotes.

Allah SWT mempunyai kuasa penuh atas adegan-adegan hamba-Nya dalam setiap episode kehidupan ini. Setiap lakon mendapat perannya masing-masing. Kesemuanya menjadi satu pertunjukan yang sempurna. Bagai sebuah mata rantai kehidupan. Dalam drama manusia lakon tidak mempunyai pilihan. Ia sudah terkunci oleh plot cerita. Terpaku pada skript naskah.

Sedangkan dalam drama Illahi lakon manusia mempunyai kebebasan. Lakon diberi kewenangan dalam menentukan perannya. Bahkan tuk menjadikan dirinya pemeran utama pun, diperbolehkan. Allah SWT hanya memberikan garis besar alur cerita dan konskuensi setiap peran yang dipilih dan dimainkannya.

Seringkali kita merasa tidak puas dengan suatu keadaan, atau suatu adegan dalam episode hidup ini. Kita mempertanyakan keadilan Sang Illahi. Bahkan kita sering menuduh bahwasanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna dan Adil, berlaku tidak adil kepada kita. Allah SWT telah mencelakakan atau menyia-nyiakan kita.

Sesungguhnya hal itu tidaklah mungkin terjadi. Bahkan Allah SWT berlaku sangat baik dan royal kepada kita. “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. ( Q.S An Nisa : 40 ). Sesungguhnya kitalah yang menganiaya diri kita sendiri. Ali Imran : 182, Al Anfal : 51, At Taubah : 70, Hud : 101.

Sesuatu yang dengan pikiran sesaat kita tidak menyukainya. Namun ketahuilah! Dengan bersabar sejenak, kita akan sangat berterimkasih kepada Allah SWT. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al Baqarah  : 216).

Tak jarang kita bersedih karena suatu hal dan dalam sekejap kita tertawa karena hal lainnya. Allah selalu mempunyai rencana sempurna untuk membuat hambanya tersenyum bahagia pada akhirnya. Ada isyarat-isyarat yang dapat ditangkap dalam memahami kesempurnaan skenario Allah SWT. Setiap kejadian yang kita alami disekitar kita. Berhubungan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya kepada kita.

Gambaran sederhananya, Allah SWT akan memberikan rambu-rambu pada hidup kita. Jika tujuan kita itu baik untuk kita, maka Allah SWT akan membimbing melalui jalan terbaik. Jika tujuan itu tidak baik untuk kita, Allah akan memberikan rambu-rambu agar kita tidak melanjutkannya.

Cermatilah! Setiap isyarat yang diberikan Allah. Bersabarlah sejenak! Kemudian cerna dengan hati nurani yang bersih dan pikiran yang jernih. Maka kita akan mendapatkan kesempurnaan takdir-Nya. Kita akan merasakan cinta dan kasih sayang-Nya. 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sudah sunatullah bahwa orang shaleh akan berkumpul dengan orang shaleh. Sesama orang shaleh akan menikmati mengikuti pengajian, mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al Qur'an dan pengkajian tafsir karena di tempat itulah tempat menempa diri menjadi manusia yang lebih baik di mata Allah.

Dalam lingkungan sekitar kita, tidak bisa dihindari godaan manusia yang mengajak ke arah maksiat. Kelompok pemuja hedonisme yang konsumtif, sex bebas, melanggar ajaran agama semaunya. Tidak hanya orang kaya pemuja hedonisme, orang miskin yang panjang angan-angan juga termasuk melanggar ajaran Islam. Karena pembicaraan dan kebesaran jiwa yang berbeda, penikmat hedonisme dan orang panjang angan-angan tidak akan bisa nyambung dengan orang shaleh, kecuali mereka ini akhirnya memutuskan bertaubat total.

Berteman tidak selalu berarti akrab, bersikap ramah dan lembut pada semua orang itu memang perlu, tapi tetap perlu waspada. Barangkali untuk pemahamanku saat ini adalah, kita memang harus selalu berprasangka baik kepada orang shaleh. Tapi sebelum kita tau orang ini baik atau tidak kita perlu waspada. Bila akhirnya ketahuan orang ini menjahati kita berharap kebaikan padanya, walau kita lebih baik menghindari dia.

Orang shaleh itu adalah pada dasarnya ia selalu dekat dengan kebaikan dan selalu mencintai kebaikan, ia senang dengan orang-orang yang berbuat baik dan selalu menyempatkan dirinya berkumpul dengan orang-orang yang berbuat baik. Dan yang kedua adalah lelaki shaleh itu juga sangat membenci yang namanya keburukan atau lebih jelasnya disebut perbuatan maksiat. Perbuatan yang dapat mendatangkan kecelakaan bagi dirinya baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

1. Ia senantiasa taat dan tunduk kepada Allah SWT dan Rasullulah SAW.
2. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah SWT
3. Ikhlas dalam beramal.
4. Selalu berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit
5. Jihad Fisabilillah adalah tujuan hidupnya.
6. Mati syahid adalah cita cita hidup yang tertinggi.
7. Sangat takut kepada ancamannya Ancaman Allah SWT
8. Kampung akhirat mejadi tujuan utama hidupnya.
9. Selalu memohon ampun atas segala dosa-dosanya.
10. Sholat malam menjadi kebiasaannya.
11 Zuhud dengan dunia tetapi tidak meninggalkannya.
12. Menerapkan nilai kasih sayang sesama mukmin dan ukhwah diantara mereka.
13. Sangat kuat Amar ma’aruf dan Nahi munkarnya.
14. Tawakal dan tidak mengeluh kecuali kepada Allah SWT
15. Pemaaf dan lapang dada dalam menghadapi kebodohan manusia, senantiasa saling koreksi sesama ikhwan dan tawadhu penuh kepada Allah swt
16. Sangat kuat memegang amanah, janji dan kerahasiaan.
17. Memiliki Kasih Sayang yang tinggi dan Perhatian yang penuh bagi keluarganya
18. Setia dan bertanggung jawab kepada keluarganya

Bagaimana dengan saudara semua, apakah kalian termasuk diantaranya ?  Atau kalian memiliki kriteria lain tentang Orang-Orang Yang shaleh ?

Jika seseorang menyakiti Anda, mengkhianati Anda, atau menghancurkan hati Anda ampunilah mereka, karena mereka telah membantu Anda belajar tentang kepercayaan dan pentingnya berhati-hati ketika Anda membuka hati Anda.

Dalam kehidupan ada pelajaran yang harus dipelajari dalam semua kenangan , perjalanan , yang membuahkan hasil dan pengalaman Anda dan semua kejatuhan serta kesalahan anda. Jangan biarkan hal-hal seperti itu membuat hubungan anda menjadi gagal dan membawa Anda turun atau menghentikan Anda dari yang pernah anda inginkan. Mengampuni mereka yang telah menyalahgunakan kepercayaan Anda, mereka yang seharusnya dengan Anda, tapi bertindak dengan lebih baik kepada mereka dan memberikan mereka kebahagiaan lebih dari apa yang telah mereka lakukan terhadap Anda, mereka yang telah bersedia untuk tidak hanya patah hati , tetapi bersedia untuk mengkhianati Anda juga.


Inilah orang-orang yang telah membantu Anda , karena orang-orang inilah yang telah mengajarkan siapa dan bagaimana serta dimana membuat kepercayaan dan menjalin hubungan untuk saling percaya, kapan harus berhati-hati serta memberikan peringatan akan tanda-tanda seseorang yang menjadi tidak bisa dipercaya, dan akhirnya mereka telah membantu Anda untuk menentukan apa yang terbaik di masa depan untuk membuka hati.

Jalani kehidupan Anda, jangan biarkan perasaan sakit hati dan kesalahan serta kejatuhan dalam menjalani hidup menghalangi anda, gunakan hikmat anda dari pengalaman anda, tetapi tidak pernah membiarkan mereka menahan anda dari melihat kebesaran dan rahmat serta ampunan Sang Maha Kuasa.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, ”Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnya" (Tafsir Al Qur’an)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Ayat ini ihdinash shirathal mustaqim mengandung penjelasan bahwa sesungguhnya hamba tidak akan mendapatkan jalan untuk menggapai kebahagiaannya kecuali dengan tetap istiqamah di atas jalan yang lurus. Dan tidak ada jalan untuk meraih keistiqamahan baginya kecuali dengan hidayah dari Rabbnya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan baginya untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk bisa istiqamah di atas jalan tersebut kecuali dengan hidayah dari-Nya” (Al Fawa’id, hal. 21).

Syaikhul Islam rahimahullah berkata :

Seorang hamba senantiasa memerlukan hidayah Allah untuk meniti jalan yang lurus. Maka dari itu dia sangat memerlukan tercapainya maksud di balik doa ini (yaitu ‘ihdinash shirathal mustaqim’). Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari azab dan bisa menggapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah ini. Barangsiapa yang kehilangan hidayah maka dia akan termasuk golongan orang yang dimurkai atau golongan orang yang sesat. Dan petunjuk ini tidak akan diraih kecuali dengan taufik dari Allah. Ayat ini pun menjadi salah satu senjata pembantah kesesatan mazhab Qadariyah.

Adapun pertanyaan orang : ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepada mereka umat Islam oleh sebab itu mereka tidak perlu meminta hidayah’ beserta jawaban orang untuk pertanyaan itu bahwa ‘yang dimaksud dengan ayat ini adalah permintaan agar hidayah itu terus menerus menyertai hamba’, maka itu semua merupakan ucapan orang yang tidak memahami hakekat hukum sebab akibat dan tidak mengerti isi perintah Allah. Karena sesungguhnya hakekat jalan yang lurus (shirathal mustaqim) itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya baik hal itu ilmu maupun amal, dan dia tidak menerjang larangan Allah.

Nah, hidayah semacam ini sangat diperlukan di setiap saat agar bisa berilmu dan beramal sebagaimana apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangan-Nya pada kesempatan tersebut. Dan hidayah itu pun dibutuhkan hamba agar bisa memiliki tekad yang bulat dalam rangka menjalankan perintah. Demikian pula halnya diperlukan rasa benci yang amat dalam agar bisa meninggalkan hal-hal yang dilarang. Apalagi ilmu dan tekad yang lebih spesifik ini sulit terbayang bisa dimiliki seseorang di saat yang sama.

Bahkan di sepanjang waktu hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk mengaruniakan ilmu dan tekad ke dalam hatinya sehingga dia akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus.

Memang benar, bahwa seorang muslim telah memperoleh petunjuk global yang menerangkan bahwa Al-Qur’an adalah haq, Rasul pun haq dan agama Islam adalah benar. Anggapan itu memang benar, Akan tetapi petunjuk yang masih bersifat global ini belumlah cukup baginya apabila dia tidak mendapatkan petunjuk yang lebih rinci dalam menyikapi segala perkara juz’iyaat (persoalan cabang) yang diperintahkan kepadanya dan dilarang darinya dimana mayoritas akal manusia mengalami kebingungan dalam hal itu. Sehingga hawa nafsu dan syahwat mengalahkan diri mereka dikarenakan hawa nafsu dan syahwat itu telah mendominasi akal-akal mereka.

Pada asalnya manusia itu tercipta sebagai makhluk yang suka berbuat zalim lagi bodoh. Sehingga sejak dari permulaan manusia itu memang tidak punya ilmu dan cenderung melakukan hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsunya yang buruk. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan ilmu yang lebih rinci untuk bisa mengikis kebodohan dirinya. Selain itu dia juga memerlukan sikap adil dalam mengendalikan rasa cinta dan benci, dalam mengendalikan ridha dan marah, dalam mengendalikan diri untuk melakukan dan meninggalkan sesuatu, dalam mengendalikan diri untuk memberikan dan tidak kepada seseorang, dalam hal makan dan minumnya, dalam kondisi tidur dan terjaga.

Maka segala sesuatu yang hendak diucapkan atau dilakukannya membutuhkan ilmu yang menyingkap kejahilannya dan sikap adil yang menyingkirkan kezalimannya. Apabila Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu serta sikap adil yang lebih rinci sebab jika tidak demikian maka di dalam dirinya tetap akan tersisa kebodohan dan kezaliman yang akan menyeretnya keluar dari jalan yang lurus.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus” (QS. Al-Fath : 1-2). Kalau keadaan beliau di akhir hidupnya atau menjelang wafatnya saja seperti ini tetap memerlukan hidayah lalu bagaimanakah lagi keadaan orang selain beliau ?

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Jalan yang lurus ini adalah jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalannya orang yang dimurkai, yang mereka mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 39).

Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut : 69)

Ibnul Qayyim mengatakan, ”Allah subhanahu mengaitkan hidayah dengan jihad (kesungguh-sungguhan). Maka orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya dan jihad yang paling wajib adalah berjihad untuk menundukkan diri sendiri, melawan hawa nafsu, memerangi syaitan, dan menundukkan urusan keduniaan. Barang siapa yang berjihad melawan keempat hal ini di atas petunjuk Allah maka Allah akan menunjukkan kepada-Nya berbagai jalan untuk menggapai keridhaan-Nya dan akan mengantarkan dirinya menuju ke dalam surga-Nya. Dan barang siapa yang meninggalkan jihad, maka akan luput pula darinya petunjuk sebanding dengan jihad yang ditinggalkannya. Al Junaid mengatakan,”Orang-orang yang berjihad menundukkan hawa nafsu mereka di atas jalan Kami dengan senantiasa bertaubat, maka Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keikhlasan, dan tidak mungkin sanggup berjihad menghadapi musuh fisik yang ada di hadapannya kecuali orang yang telah berjihad menundukkan musuh-musuh ini di dalam dirinya…” (Al Fawa’id, hal. 58).

Allah ta’ala berfirman yang artinya “Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Qashash : 50).

Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa semua orang yang tidak mau memenuhi seruan Rasul dan justru menganut pendapat yang menyelisihi ucapan Rasul maka dia tidaklah bermadzhabkan bimbingan hidayah akan tetapi madzhabnya adalah hawa nafsu. Orang-orang yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang kezaliman telah menjadi karakter hidupnya dan suka menentang kebenaran telah melekat dalam perangainya. Ketika hidayah menyapa, mereka justru menolaknya. Mereka lebih senang menuruti kemauan hawa nafsunya. Mereka sendirilah yang menutup pintu-pintu dan jalan menuju hidayah. Mereka justru membuka pintu-pintu kesesatan dan jalan menuju ke sana. Mereka menutup mata dan tidak mau tahu, padahal mereka telah tenggelam dalam kesesatan dan penyimpangan. Mereka terombang-ambing, hidup di ambang kehancuran.

Wallahu A'lam

Wahai sekalian manusia!. Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan dengarlah apa-apa yang disabdakan oleh Nabi kalian, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, “Apakah kalian mau jika aku beritahukan kepada kalian tentang perbuatan yang paling baik dari puasa, shalat dan shadaqah?. Mereka menjawab: Mau wahai Rasulullah?. Beliau menjawab, “Yaitu mendamaikan pertikaian antara sesama muslim, sesungguhnya rusaknya hubungan antara sesama muslim adalah sebagai pemangkas, aku tidak mengatakan memangkas rambut namun dia bisa memangkas agama”. HR. Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi.

 Ketahuilah bahwa di antara perkara yang sangat diperhatikan oleh agama ini, adalah terbentuknya masyarakat yang solid dengan menciptakan perdamaian antara mereka yang bertikai, setiap individu berusaha secara bersama dalam menyatukan kembali sendi-sendi masyarakat tercerai berai, memperbaiki bagian yang terpecah dan hasil yang ingin dituju adalah terbentuknya masyarakat yang baik dan tegaknya jama’ah dalam kesatuan, saling menguatkan dalam menjaga hak-hak pribadi, tolong menolong, dan saling membantu dalam mewujudkan hak-hak bersama dengan mengembangkan sikap berani berkorban, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, menjaga kehormatan dan membela kemaslahatan masyarakat. 
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyebutkan di dalam kitabNya yang mulia beberapa faktor positif yang bisa menjamin terbentuknya pribadi dan masyarakat yang baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
 قال الله تعالى: لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” QS. Al-Nisa’: 114.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan pahala yang paling baik dan besar bagi setiap orang yang berupaya memperbaiki pertiakain yang terjadi antara sesama manusia dalam segala urusan mereka, guna menjaga persatuan jama’ah kaum muslimin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” QS. Al-Nisa’: 114.

Bersambung Insya Allah

Wallahu A'lam

Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "jadilah", maka jadilah ia.

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, yaitu orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,  keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,  
 
"Maka Apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman dari bencana ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak azab itu, atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur sampai binasa"

Maka ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri?

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan juga para ma]aikat, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut." Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. 

An Nahl : - 53

Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surat Yunus. Surat ini dinamai surat Huud karena ada hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Huud a.s. dan kaumnya dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh a.s., Shaleh a.s., Ibrahim a.s., Luth a.s., Syu'aib a.s. dan Musa a.s.

Pokok-pokok isinya:

1. Keimanan:
Adanya 'Arsy Allah; kejadian alam dalam 6 phase; adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat.

2 Hukum-hukum:
Agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan; tidak boleh berlaku sombong; tidak boleh mendoa atau mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.

3 Kisah-kisah:
Kisah Nuh a.s. dan kaumnya; kisah Huud a.s. dan kaumnya; kisah Shaleh a.s. dan kaumnya; kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya; kisah Syu'aib a.s. dan kaumnya; kisah Luth a.s. dan kaumnya; kisah Musa a.s. dan kaumnya.

4. Dan lain-lain.
Pelajaran-peIajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi; air sumber segala kehidupan; sembahyang itu memperkuat iman; sunnah Allah yang berhubungan dengan kebinasaan suatu kaum. 



Surat Hud mengandung hal-hal yang berhubungan dengan pokok-pokok agama, seperti: Ketauhidan, kerasulan, hari berbangkit, kemudian dihubungkan dengan da'wah yang telah dilakukan oleh para Nabi kepada kaumnya.


Wallahu A'lam