Showing posts with label Ikhlas. Show all posts
Showing posts with label Ikhlas. Show all posts

Hormati hak asasi manusia , Karena itu fitrah manusia ,  Kita semua bebas memilih , Jalan hidup yang disukai
Tuhan pun tidak memaksakan , Apa yang hamba-Nya lakukan

Terapkan demokrasi Pancasila , Sebagai landasan negara kita , Janganlah suka memperkosa , Kebebasan warga negara , Karena itu bertentangan , Dengan perikemanusiaan dan tentunya hukum Al Quran

Kebebasan beragama (itu hak asasi)
Kebebasan berbicara (itu hak asasi)

Kita bebas untuk melalukan segala-galanya , Asal saja tidak bertentangan dengan Pancasila

Kebebasan berusaha (itu hak asasi)
Kebebasan tuk berkarya (itu hak asasi)

Kita bebas untuk melalukan segala-galanya,  Asal saja tidak bertentangan dengan Al Qur'an Dan Sunnah rasul Nya.

Sebagai agama yang sempurna, Islam sangat memperhatikan bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan Allah Subhanahu Wata'al secara vertikal, tetapi juga yang berhubungan dengan sesama manusia secara horizontal. Hal ini terlihat dari doktrin iman dan amal saleh.


Kedua konsep ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena apabila salah satu dari keduanya tiada maka kesempurnaan dari salah satunya akan berkurang. Iman tanpa amal itu hampa sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman adalah fondasi sedangkan amal adalah implementasi.

Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW: “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani).

Dalam hadis lain, Nabi bersabda; “Celaka orang yang banyak zikrullah dengan lidahnya tapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya.” (HR. Ad-Dailami). Kesatuan konsep iman dan amal ini tergambar dari ayat-ayat Alquran. Di dalam Alquran, Allah Subhanahu Wata'ala sering kali menggandengkan kata iman dengan amal saleh.

Seperti dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah : 82).

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Muslim).

Hadis ini dengan jelas memperlihatkan bahwa ada hubungan sebab-akibat antara iman dan amal. Apabila seseorang memiliki keimanan (kepada Allah dan hari kiamat) maka hendaklah ia beramal shaleh, dalam hal ini hendaklah ia berbuat baik kepada tetengganya, memuliakan tamunya, dan berkata baik atau diam.

Doktrin iman dan amal shaleh ini juga mencerminkan bahwa Islam bukan hanya mementingkan urusan pribadi (keshalehan individual) tetapi juga sangat peduli dengan urusan sosial (keshalehan sosial). Seorang manusia sempurna (insan kamil) adalah manusia yang teguh imannya dan banyak amal salehnya.

Wallahu A'lam





Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Al Maa'idah : 120

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah. Tidak patut kita, manusia, merasa senang dengan kelebihan yang kita miliki. Harta, untuk yang kaya. Jabatan, untuk yang punya jabatan. Rupa, untuk yang diberi kecantikan / ketampanan. Bahkan orangtua, anak-anak, semua hanya milik Allah. Kita hanya dititipi, seperti penitipan / tempat parkir pada perumpamaannya dan pada akhirnya kelak semua yang ada pada diri kita akan dimintai pertanggungjawaban. Apakah kita mensyukuri titipan-Nya, menjaganya, memberinya hak dan kewajiban sesuai aturan pemiliknya ? Apakah kita sudah memposisikan diri sebagai "yang dititipi" ?

Manusia memang sombong. Dulu, kala Allah mengamanahkan bumi dan isinya kepada gunung, gunung yang kokoh menjulang di permukaan bumi ini menolak. Begitu juga yang lainnya. Tapi manusia, dengan angkuhnya, menyanggupi melaksanakan amanah berat itu. Begitulah manusia, yang harus memikul amanah sebagai khalifah di muka bumi. Selayaknya kita kembalikan lagi semua kepada pemilik-Nya, dengan tanpa merasa memiliki sedikit pun. Dunia ini hanyalah fatamorgana, jangan sampai tertipu.

"Barangsiapa yang bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Dan barangsiapa kufur, maka sesungguhnya adzab Allah sangat pedih." Mudah saja bagi Allah mencabut nikmat yang kita miliki saat ini. Begitu juga, mudah saja bagi Allah memberikan nikmat dari arah yang tidak disangka-sangka kepada kita.

Sesungguhnya semua hanya milik Allah. Kita hanya diwajibkan berikhtiar, dengan rambu-rambu yang diberikan oleh sang pemilik. Selanjutnya tinggal terserah Allah saja apakah mau memberikan yang kita minta atau tidak. Yang pasti, Allah menyuruh kita terus berdo'a, dan Allah berjanji akan mengabulkan tiap do'a hamba-Nya. "Ud'uunii astajib lakum." Berdo'alah, Allah pasti mengabulkan. Bukan hanya itu, Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi hambaNya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Orang yang sabar adalah orang yang jika terkena musibah maka dia memahami dan menghayati kalimah “innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” (QS. al-Baqarah) karena sesungguhnya semua milik Allah dan sesungguhnya semua akan kembali kepada Allah .

Semuanya memang milik Allah. Allah adalah Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu yang lain), sedangkan manusia adalah miskin selalu membutuhkan sesuatu yang lain. Saat manusia lahir sebagai bayi, dia dalam keadaan telanjang bulat, tidak membawa apa-apa, dan belum tahu apa-apa. Saat manusia mati sebagai mayat, dia dalam keadaan kaku, tidak membawa apa-apa kecuali amal dan kain putih dan sudah tidah tahu apa-apa.


Segalanya memang milik Allah. Manusia hanya sekedar “dipinjami” atau “dititipi” oleh Allah. Apa saja yang diperoleh, dirasakan dan dipakai oleh manusia hanya sekedar “barang pinjaman” atau “barang titipan” milik Allah. Suatu saat barang itu akan diminta oleh yang pemiliknya.

Hai seluruh ummat manusia ! Nyawamu, anggota tubuhmu, dan semua kemampuanmu hanyalah sekedar “barang pinjaman” (titipan) milik Allah Subhanahu Wata'ala yang semuanya pasti akan dikembalikan kepada-Nya. Kewajibanmu adalah mengabdikan diri beribadah kepada Allah semata sebagai ‘abdullah' dan mengelola kehidupan dunia menurut petunjuk-Nya (sebagai khalifah), bukan untuk hidup menurut nafsumu.

Kesabaran dan usaha yang keras menjadi kunci untuk mengatasi krisis yang masih melanda dunia. Kesadaran yang mendalam bahwa semua milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah akan membawa pada kehidupan yang tenang, damai, dan optimis. Kesadaran ini juga harus diikuti dengan usaha sungguh-sungguh untuk mengatasi problem yang dihadapi.

Wallahu a'lam bishshawab.

Kegelisahan terlahir akibat tidak adanya keseimbangan antara harapan dari hati, pikiran dan kenyataan. Adanya permasalahan hidup manusia muncul kepermukaan lebih disebabkan oleh hanya semata-mata dipersepsikan pada logika berpikir yang sempit. Itulah sebabnya, mengapa kebanyakan dari kita mendefinisikan masalah berupa kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang terjadi. lebih dari itu, harusnya dalam hidup seorang mukmin segala apa yang terjadi dalam kehidupan ini diposisikan semata-mata atas kehendak-Nya.

Bukan mengandalkan semata-mata pada persepsi akal manusia, sebab kadang kala akal ini terselimuti oleh tumpukkan kotoran-kotoran hawa nafsu manusia itu sendiri. Allah Swt dalam QS. Taghaabun [64]: 11, mengingatkan kepada kita bahwa "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya"

Ketidakadaan atau tenggelamnya kesadaran pola pikir seperti itu, maka akan melahirkan kegelisahan hidup manusia. Pasalnya bagi manusia model demikian tidak menyadari sepenuhnya akan sunnatullah kehidupan manusia yang selalu dihadapkan pada sejumlah besar tantangan. yang pada hakikatnya bukan untuk dihindari, melainkan justru untuk dilakoni. Hidup itu sendiri adalah tantangan, dan ketika ada masalah maka yang harus dilakukan oleh manusia adalah memperbaikinya. Mengapa kita mesti menghindar? Di sinilah kadang-kadang kita lupa pada kesejatian diri. karena "sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri"


Di mana pun dan kapan pun kita hidup, masalah dan tantangan serta rintangan akan selalu datang menjemput. Hidup adalah inheren, sekaligus identik, dengan masalah dari tantangan itu sendiri. Kalau kita menghadapinya dengan hati tegar dan ikhlas, semua masalah itu akan sirna. Kalau kita tertelikung dengan masalah, sesungguhnya bukan masalah itu sendiri sebagai masalah dan akan semakin menambah masalah. karena sejatinya yang menjadi masalah adalah cara kita sendiri yang salah dalam menghadapi masalah.

Bagi sebagian orang kegelisahan hati itu muncul didasari oleh perilaku kita yang belum sampai ke tingkat yakin akan sangat dekatnya pertolongan Allah. Artinya segala persoalan dan kesulitan yang ada dan menimpa kita sekecil apapun justru seringkali membuahkan rasa cemas dan gudah gulana yang membuat gelisah hatinya.

Kondisi hati yang gelisah akan berdampak pada persepsi menyikapi hari demi hari hidupnya dengan aneka keluh kesah, amarah, dan perilaku yang serba salah. Lebih jauh kondisi ini menyebabkan hidup terasa sumpek, mumet, rumit, dan membuat sakit kepala menghinggapi kita.

Kesannya, segala yang tersaji di hadapan kita, terasa semakin membebani hati dan pikirannya. disinilah Pentingnya Meredam Resah dan Gelisah yang ada dihati. Keberadaan masalah dalam hidup adalah sesuatu yang wajar. Namun, manakala sikap kita yang tidak tepat dalam menghadapi dan memposisikan masalah tersebut, maka inilah sebenarnya yang menjadi awal munculnya penyakit gelisah hati. Adanya gelisah hati dalam hidup kita, bila tidak hati-hati tentu tidak jarang akan menjadi jalan yang terbentang bagi terjerumusnya ke jurang kesalahan yang semakin menambah masalah.

Sehingga bukannya diri ini terhindar atau melupakan segala petaka gelisah hati, justru malah menambah berat beban langkah hidupnya. Inilah buah dari salah sikap dan perilaku kita dalam memaknai masalah kegelisahan hati. Untuk itu, sedini mungkin setiap kita sudah seharusnya belajar untuk meredam setiap masalah yang dapat memunculkan gelisah hati. Inilah kunci awal untuk mencapai ketentraman hidup.

Dengan demikian, dalam hidup manusia sangat diperlukan adanya perilaku meredam gelisah hati. Pentingnya meredam gelisah hati ini, tidak lain didasarkan pada kenyataan bahwa perasaan cemas, gelisah, keluh kesah, dan amarah jelas tidak akan mengubah apa pun, malahan justru akan menyengsarakan hati dalam jurang kegelisahan berikutnya.

Bersambung Ke Catatan Selanjutnya Insya Allah 

Wallahu A'lam

Sudah sunatullah bahwa orang shaleh akan berkumpul dengan orang shaleh. Sesama orang shaleh akan menikmati mengikuti pengajian, mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al Qur'an dan pengkajian tafsir karena di tempat itulah tempat menempa diri menjadi manusia yang lebih baik di mata Allah.

Dalam lingkungan sekitar kita, tidak bisa dihindari godaan manusia yang mengajak ke arah maksiat. Kelompok pemuja hedonisme yang konsumtif, sex bebas, melanggar ajaran agama semaunya. Tidak hanya orang kaya pemuja hedonisme, orang miskin yang panjang angan-angan juga termasuk melanggar ajaran Islam. Karena pembicaraan dan kebesaran jiwa yang berbeda, penikmat hedonisme dan orang panjang angan-angan tidak akan bisa nyambung dengan orang shaleh, kecuali mereka ini akhirnya memutuskan bertaubat total.

Berteman tidak selalu berarti akrab, bersikap ramah dan lembut pada semua orang itu memang perlu, tapi tetap perlu waspada. Barangkali untuk pemahamanku saat ini adalah, kita memang harus selalu berprasangka baik kepada orang shaleh. Tapi sebelum kita tau orang ini baik atau tidak kita perlu waspada. Bila akhirnya ketahuan orang ini menjahati kita berharap kebaikan padanya, walau kita lebih baik menghindari dia.

Orang shaleh itu adalah pada dasarnya ia selalu dekat dengan kebaikan dan selalu mencintai kebaikan, ia senang dengan orang-orang yang berbuat baik dan selalu menyempatkan dirinya berkumpul dengan orang-orang yang berbuat baik. Dan yang kedua adalah lelaki shaleh itu juga sangat membenci yang namanya keburukan atau lebih jelasnya disebut perbuatan maksiat. Perbuatan yang dapat mendatangkan kecelakaan bagi dirinya baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

1. Ia senantiasa taat dan tunduk kepada Allah SWT dan Rasullulah SAW.
2. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah SWT
3. Ikhlas dalam beramal.
4. Selalu berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit
5. Jihad Fisabilillah adalah tujuan hidupnya.
6. Mati syahid adalah cita cita hidup yang tertinggi.
7. Sangat takut kepada ancamannya Ancaman Allah SWT
8. Kampung akhirat mejadi tujuan utama hidupnya.
9. Selalu memohon ampun atas segala dosa-dosanya.
10. Sholat malam menjadi kebiasaannya.
11 Zuhud dengan dunia tetapi tidak meninggalkannya.
12. Menerapkan nilai kasih sayang sesama mukmin dan ukhwah diantara mereka.
13. Sangat kuat Amar ma’aruf dan Nahi munkarnya.
14. Tawakal dan tidak mengeluh kecuali kepada Allah SWT
15. Pemaaf dan lapang dada dalam menghadapi kebodohan manusia, senantiasa saling koreksi sesama ikhwan dan tawadhu penuh kepada Allah swt
16. Sangat kuat memegang amanah, janji dan kerahasiaan.
17. Memiliki Kasih Sayang yang tinggi dan Perhatian yang penuh bagi keluarganya
18. Setia dan bertanggung jawab kepada keluarganya

Bagaimana dengan saudara semua, apakah kalian termasuk diantaranya ?  Atau kalian memiliki kriteria lain tentang Orang-Orang Yang shaleh ?

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, ”Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnya" (Tafsir Al Qur’an)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Ayat ini ihdinash shirathal mustaqim mengandung penjelasan bahwa sesungguhnya hamba tidak akan mendapatkan jalan untuk menggapai kebahagiaannya kecuali dengan tetap istiqamah di atas jalan yang lurus. Dan tidak ada jalan untuk meraih keistiqamahan baginya kecuali dengan hidayah dari Rabbnya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan baginya untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk bisa istiqamah di atas jalan tersebut kecuali dengan hidayah dari-Nya” (Al Fawa’id, hal. 21).

Syaikhul Islam rahimahullah berkata :

Seorang hamba senantiasa memerlukan hidayah Allah untuk meniti jalan yang lurus. Maka dari itu dia sangat memerlukan tercapainya maksud di balik doa ini (yaitu ‘ihdinash shirathal mustaqim’). Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari azab dan bisa menggapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah ini. Barangsiapa yang kehilangan hidayah maka dia akan termasuk golongan orang yang dimurkai atau golongan orang yang sesat. Dan petunjuk ini tidak akan diraih kecuali dengan taufik dari Allah. Ayat ini pun menjadi salah satu senjata pembantah kesesatan mazhab Qadariyah.

Adapun pertanyaan orang : ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepada mereka umat Islam oleh sebab itu mereka tidak perlu meminta hidayah’ beserta jawaban orang untuk pertanyaan itu bahwa ‘yang dimaksud dengan ayat ini adalah permintaan agar hidayah itu terus menerus menyertai hamba’, maka itu semua merupakan ucapan orang yang tidak memahami hakekat hukum sebab akibat dan tidak mengerti isi perintah Allah. Karena sesungguhnya hakekat jalan yang lurus (shirathal mustaqim) itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya baik hal itu ilmu maupun amal, dan dia tidak menerjang larangan Allah.

Nah, hidayah semacam ini sangat diperlukan di setiap saat agar bisa berilmu dan beramal sebagaimana apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangan-Nya pada kesempatan tersebut. Dan hidayah itu pun dibutuhkan hamba agar bisa memiliki tekad yang bulat dalam rangka menjalankan perintah. Demikian pula halnya diperlukan rasa benci yang amat dalam agar bisa meninggalkan hal-hal yang dilarang. Apalagi ilmu dan tekad yang lebih spesifik ini sulit terbayang bisa dimiliki seseorang di saat yang sama.

Bahkan di sepanjang waktu hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk mengaruniakan ilmu dan tekad ke dalam hatinya sehingga dia akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus.

Memang benar, bahwa seorang muslim telah memperoleh petunjuk global yang menerangkan bahwa Al-Qur’an adalah haq, Rasul pun haq dan agama Islam adalah benar. Anggapan itu memang benar, Akan tetapi petunjuk yang masih bersifat global ini belumlah cukup baginya apabila dia tidak mendapatkan petunjuk yang lebih rinci dalam menyikapi segala perkara juz’iyaat (persoalan cabang) yang diperintahkan kepadanya dan dilarang darinya dimana mayoritas akal manusia mengalami kebingungan dalam hal itu. Sehingga hawa nafsu dan syahwat mengalahkan diri mereka dikarenakan hawa nafsu dan syahwat itu telah mendominasi akal-akal mereka.

Pada asalnya manusia itu tercipta sebagai makhluk yang suka berbuat zalim lagi bodoh. Sehingga sejak dari permulaan manusia itu memang tidak punya ilmu dan cenderung melakukan hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsunya yang buruk. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan ilmu yang lebih rinci untuk bisa mengikis kebodohan dirinya. Selain itu dia juga memerlukan sikap adil dalam mengendalikan rasa cinta dan benci, dalam mengendalikan ridha dan marah, dalam mengendalikan diri untuk melakukan dan meninggalkan sesuatu, dalam mengendalikan diri untuk memberikan dan tidak kepada seseorang, dalam hal makan dan minumnya, dalam kondisi tidur dan terjaga.

Maka segala sesuatu yang hendak diucapkan atau dilakukannya membutuhkan ilmu yang menyingkap kejahilannya dan sikap adil yang menyingkirkan kezalimannya. Apabila Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu serta sikap adil yang lebih rinci sebab jika tidak demikian maka di dalam dirinya tetap akan tersisa kebodohan dan kezaliman yang akan menyeretnya keluar dari jalan yang lurus.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus” (QS. Al-Fath : 1-2). Kalau keadaan beliau di akhir hidupnya atau menjelang wafatnya saja seperti ini tetap memerlukan hidayah lalu bagaimanakah lagi keadaan orang selain beliau ?

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Jalan yang lurus ini adalah jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalannya orang yang dimurkai, yang mereka mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 39).

Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut : 69)

Ibnul Qayyim mengatakan, ”Allah subhanahu mengaitkan hidayah dengan jihad (kesungguh-sungguhan). Maka orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya dan jihad yang paling wajib adalah berjihad untuk menundukkan diri sendiri, melawan hawa nafsu, memerangi syaitan, dan menundukkan urusan keduniaan. Barang siapa yang berjihad melawan keempat hal ini di atas petunjuk Allah maka Allah akan menunjukkan kepada-Nya berbagai jalan untuk menggapai keridhaan-Nya dan akan mengantarkan dirinya menuju ke dalam surga-Nya. Dan barang siapa yang meninggalkan jihad, maka akan luput pula darinya petunjuk sebanding dengan jihad yang ditinggalkannya. Al Junaid mengatakan,”Orang-orang yang berjihad menundukkan hawa nafsu mereka di atas jalan Kami dengan senantiasa bertaubat, maka Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keikhlasan, dan tidak mungkin sanggup berjihad menghadapi musuh fisik yang ada di hadapannya kecuali orang yang telah berjihad menundukkan musuh-musuh ini di dalam dirinya…” (Al Fawa’id, hal. 58).

Allah ta’ala berfirman yang artinya “Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Qashash : 50).

Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa semua orang yang tidak mau memenuhi seruan Rasul dan justru menganut pendapat yang menyelisihi ucapan Rasul maka dia tidaklah bermadzhabkan bimbingan hidayah akan tetapi madzhabnya adalah hawa nafsu. Orang-orang yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang kezaliman telah menjadi karakter hidupnya dan suka menentang kebenaran telah melekat dalam perangainya. Ketika hidayah menyapa, mereka justru menolaknya. Mereka lebih senang menuruti kemauan hawa nafsunya. Mereka sendirilah yang menutup pintu-pintu dan jalan menuju hidayah. Mereka justru membuka pintu-pintu kesesatan dan jalan menuju ke sana. Mereka menutup mata dan tidak mau tahu, padahal mereka telah tenggelam dalam kesesatan dan penyimpangan. Mereka terombang-ambing, hidup di ambang kehancuran.

Wallahu A'lam

berteman dengan orang-orang yang penuh dengan penyakit hati hanya akan menulari kita dengan penyakit-penyakit itu sehingga kita akan semakin jauh dari Allah. Salah pergaulan juga dapat menambah dosa akibat perbuatan maksiat yang baik disadari atau tidak telah kita lakukan. Lain hal apabila kita bergaul dengan orang shaleh yang selalu menjaga dan membatasi diri dalam pergaulan agar mereka tidak terjerumus dalam maksiat.

Macam-macam arti penyakit hati dan sifat buruk manusia antara lain :

1. Iri Hati
Iri hati adalah suatu sifat yang tidak senang akan rizki / rejeki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan cenderung berusaha untuk menyainginya. Iri hati yang diperbolehkan dalam ajaran islam adalah iri dalam hal berbuat kebajikan, seperti iri untuk menjadi pintar agar dapat menyebarkan ilmunya di kemudian hari. Atau iri untuk membelanjakan harta di jalan kebenaran.

2. Dengki
Dengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut. Sifat ini sangat berbahaya karena tidak ada orang yang suka dengan orang yang memiliki sifat seperti ini.

3. Hasut / Hasud / Provokasi
Hasud adalah suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain agar amarah / marah orang tersebut meluap dengan tujuan agar dapat memecah belah persatuan dan tali persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian antar sesama.

4. Fitnah
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah suatu kegiatan menjelek-jelekkan, menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa bukti yang kuat.

5. Buruk Sangka
Buruk sangka adalah sifat yang curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas.

6. Khianat / Hianat
Hianat adalah sikap tidak bertanggungjawab atau mangkir atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai bohong dengan mengobral janji. Khianat adalah ciri-ciri orang munafik. Orang yang telah berkhianat akan dibenci orang disekitarnya dan kemungkinan besar tidak akan dipercaya lagi untuk mengemban suatu tanggung jawab di kemudian hari.

Ada beberapa cara untuk dapat selalu mengingat Allah SWT yaitu seperti dengan rajin sholat baik sholat wajib lima waktu, shalat tahajud, sholat dhuha, solat malam, dan lain-lain. Selain itu zikir, doa dan mengaji atau membaca al-qur'an juga dapat menghindarkan kita dari penyakit hati. Diharapkan dari mengingat Allah SWT kita menjadi takut atas ancaman Allah SWT jika kita melakukan dosa yang disebabkan oleh penyakit hati dan perbuatan maksiat.


Semoga kita semua selalu terhindar dari penyakit hati, serta masalah yang disebabkan olehnya.

Saudaraku, coba anda perhatikan diri anda, dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian perluas pandangan anda ke segala yang ada di sekitar anda, dan selanjutnya perluas lagi hingga seluruh penjuru dunia yang dapat anda pandang. Sipakah yang telah menyiapkan semua itu untuk anda? 

Pernahkah terbesit tanya dalam benak anda, bagaimana seandainya salah satu kenikmatan dari yang anda saksikan tidak ada, kira-kira apa yang akan anda alami. Andai rambut yang menghiasi kepala anda, tidak tumbuh, bagaimana perasaan anda? Andai Allah tidak mengaruniakan nikmat mata, pendengaran, dan lainnya kepada anda, kira-kira bagaimana hidup anda? 
 
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

"Katakanlah: 'Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati' Tetapi amat sedikit kamu bersyukur." (Qs. Al-Mulk: 23) 

Saudaraku! Anda pernah bekerja di suatu perusahaan atau istansi pemerintah? Seberapa besarkah penghargaan istansi atau perusahaan terhadap jasa yang anda berikan untuk mereka? Setiap hari mereka membeli 1/3 dari waktu, tenaga, pikiran dan berbagai potensi anda. 

Menurut anda, apakah gaji dan imbalan yang anda terima telah setimpal dengan jasa yang anda berikan kepada mereka? Saya yakin, anda merasa puas dan setimpal, karenanya anda mempertahankan pekerjaan anda. Dan bahkan mungkin anda telah membuat planing untuk mengabdikan jasa dan potensi anda kepada jabatan anda hingga umur pensiun. Bukankah demikian saudarku? 

Nah, coba bandingkan pengorbanan pengabdian anda kepada profesi dan jabatan anda dengan pengorbanan anda kepada Allah Ta'ala. Bagaimanakah hasilnya saudaraku? 

Mungkinkah anda dapat menikmati berbagai fasilitas yang anda dapatkan bila Allah mencabut satu kenikmatan-Nya dari anda? Mungkinkah anda kuasa merasakan kebahagiaan mendapatkan gaji yang besar, fasilitas mewah bila Allah mencabut nikmat udara, atau bahkan nikmat buang air besar dari anda? Padahal Allah Ta'ala telah menyiapkan kenikmatan lain yang tiada banding buat anda bila anda benar-benar mengabdi kepada-Nya selama hidup di dunia. 

Allah Ta'ala berfirman pada hadits qudsi :

 أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ (فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) متفق عليه "

Aku telah siapkan untuk hamba-hambaku yang shaleh kenimmatan yang tiada mata yang pernah menyaksikannya, juga tiada telinga yang pernah mendengarnya, dan tiada pernah terbetik dalam hati manusia. " Bila kalian mau, silahkan baca firman Allah: "Tiada seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Muttafaqun 'alaih) 

Setelah anda membandingkan dua hal di atas, masih tersisakah anggapan bahwa pengabdian diri kepada Allah secara utuh adalah suatu hal yang memberatkan ?

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
 
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu." (Qs. Al Baqarah: 208) 

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan berkata: "Allah Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan percaya dengan para utusan-Nya, agar dengan sekuat daya dan upaya mereka mengamalkan seluruh simbol-simbul Islam, dan syari'atnya. Hendaknya mereka mengamalkan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan." 

Pendek kata : bukti keimanan anda kepada Allah Ta'ala ialah anda menjadikan kehidupan anda sebagai ladang untuk menyemai benih-benih kehidupan akhirat, bukan sebaliknya. Dengan cara inilah anda menjadi umat Islam sejati dan berhasil menggapai kejayaan dalam hidup.
بشر أمتي بالسناء والرفعة والتمكين في البلاد ما لم يطلبوا الدنيا بعمل الآخرة ، فمن طلب الدنيا بعمل الآخرة لم يكن له في الآخرة من نصيب. رواه أحمد والحاكم والبيهقي


 "Berilah umatku kabar gembira berupa kebahagiaan, kemuliaan dan kejayaan di dunia. Ini akan terwujud selama mereka tidak mengais kehidupan dunai dengan sara amalan akhirat. Barang siapa mengais kehidupan dunia dengan sarana amalan akhirat, niscaya kelak di akhirat ia tidak memiliki bagian (dari keberuntungan)." (Riwayat Ahmad, Al Hakim dan Al Baihaqi)

Tidak perlu kawatir, bila anda mengabdikan diri anda; pikiran, tenaga, waktu dan lainnya untuk Allah, niscaya Allah-pun membalas dengan setimpal. Jaminan hidup bahagian di dunia dan akhirat benar-benar terwujud untuk anda :

 مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الأَْخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِى حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِى الأَْخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ . الشورى  

"Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat." (Qs. As Syura': 20)

Barang siapa yang pikirannya terpusat pada urusan akhirat, niscaya Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kekayaannya ada pada hatinya, dan kekayaan dunia akan menghampirinya dengan tunduk lagi mudah. Sedangkan barang siapa yang pikirannya terpusat pada urusan dunia, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya, kemiskinan selalu berada di depan matanya, dan tidak ada dari kekayaan dunia yang menghampirinya selain yang telah Allah tuliskan untuknya. Kesimpulannya, setiap rizqi yang telah dituliskan untuk seorang hamba pasti akan datang menghampirinya. Hanya saja barang siapa yang berjuang membangun kehidupan akhirat, niscaya rizkinya akan menghampirinya dengan begitu mudah. Sedangkan orang yang hanya berpikir mengejar keuntungan dunia, rizkinya hanya akan ia peroleh dengan penuh susah payah.

Dengan demikian orang yang berjuang membina kehidupan akhirat berhasil menggabung keuntungan dunia dan akhirat. Sedangkan tujuan utama dari mencari rizki adalah untuk dapat hidup dengan nyaman, dan itu benar-benar berhasil digapai oleh pejuang akhirat. Sedangkan pejuang dunia ditimpa kerugian di dunia dan akhirat, karena selama di dunia ia senantiasa menanggung kesusahan dalam upaya mencari harta. Bila demikian adanya, maka apalah gunanya harta benda bila pemiliknya tidak pernah merasakan kenyamanan?" Terlebih dari itu, ternyata Allah Ta'ala tidak pernah memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Bahkan sebaliknya, kedua kehidupan ini saling berkaitan, dengan prioritas yang berbeda. Kehidupan akhirat adalah primer dan menjadi akhir dari perjuangan hidup di dunia. Sedangkan kehidupan dunia ialah ladang penyemaian benih-benih kehidupan akhirat.

Karenanya, sangat tidak etis bila anda motifasi anda dalam menebar benih akhirat ialah untuk mendapatkan keuntungan dunia. Relah anda menebar beni padi guna mendapatkan jerami? Mungkinkah suatu saat anda membangun perusahaan hanya untuk mendapatkan limbah? Adapun berbagai janji Allah Ta'ala dan Rasul-Nya berupa kehidupan dunia yang layak dan keuntungan duniawi lainnya hanyalah sebatas motivasi tambahan. Karenanya, kelak di hari qiyamat, mereka hanya bisa menggigit jari, menyesali jasa baik mereka yang sirna bak debu yang berterbangan.

 مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ 

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. Huud 15-16)

Karenanya kelak di hari qiyamat, akan ada orang-orang yang semasa hidup di dunia banyak bersedekah dan berinfak, akan tetapi karena motivasinya hanya ingin mendapatkan keuntungan dunia berupa kedudukan sosial belaka, atau balasan berupa tambahan harta dunia yang telah ada pada dirinya , maka ia termasuk orang-orang yang pertama kali dimasukkan ke dalam neraka dan merugilah dia. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya. Saya yakin anda tidak mendambakan keadaan yang demikian itu.


Saudaraku! semua itu menimpa mereka, karena mereka mengamalkan amalan tersebut hanya untuk mencari keuntungan dunia semata. singkat kata, tidak salah bila anda mengharapkan balasan dan keuntungan dunia atas amal ibadahi tidak benar bila and anda, akan tetapa menjadikannya sebagai motofasi utama atau satu-satunya harapan. Semoga uraian ringkas dan sederhana ini bermanfaat, dan semoga Allah melimpahkan istiqomah kepada kita semua.

Wallahu a'alam bisshawab


Sebagaimana kita ketahui bahwa Penyakit Hati (iri , hasud, dengki , buruk sangka , dendam , dll) adalah penyakit psikis yang kronis dan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Selain merusak kehidupan orang lain, penyakit ini sangat menyiksa batin penderitanya. Bahkan ia akan menderita hingga di hari akhirat. Jika Anda termasuk penderita penyakit ini, maka renungkan dengan sungguh-sungguh bahwa penyakit ini akan merusak keimanan, dan amal kebajikan anda.

Langkah-langkah pengobatannya sebagai berikut :

1. Paksa diri Anda untuk menyayangi orang yang menjadi sasaran dengki. Rasa kasih sayang itu akan dapat mengobati tekanan batin Anda yang diakibatkan penyakit dengki. Jika saat itu masih muncul kecenderungan negatif, lawan dan paksalah untuk berbuat baik. Yakinlah secara perlahan hati Anda akan menghormatinya.

2. Lihat kebaikan yang ada pada diri Anda dan renungkan dengan tulus bahwa karunia Allah itu sekarang ada padanya.

3. Paksa diri Anda untuk memuji kebaikannya di depan orang lain orang lain. Meski awalnya perilaku Anda nampak tidak wajar, karena tujuannya untuk perbaikan diri, secara bertahap akan menjadi murni dan tulus. Insya Allah, dari hari ke hari hal itu akan menjadi kenyataan dan hati Anda akan mengikuti lisan untuk mengharga nilai dan kualitas yang baik.

4. Yakinkan pada diri Anda dan pahami bahwa orang yang menjadi sasaran diri Anda adalah hamba Allah. Mungkin kelebihannya adalah karunia Allah yang saat ini Dia tetapkan baginya dan belum bagi Anda.

5. Jika orang yang menjadi sasaran dengki itu adalah seorang ulama yg diberkahi ilmu dan takwanya, Anda harus memahami bahwa dialah orang pilihan Allah, yang diberkahi jasa besarnya. Paksa diri Anda untuk mencintai dan menghormatinya.

6. Di setiap tahap penyembuhan, jangan mengira bahwa pesan moral ini tidak bisa menyembuhkan. Pikiran keliru itu dipengaruhi oleh setan dan nafsu aramah, yang ingin mengacaukan usaha anda untuk sembuh. Berharaplah kepada Allah yang telah berjanji akan membimbing dan membantu mereka yang berjuang melalui karunia-Nya yang tak terlihat.

Ketahuilah bahwa karena penyakit hati, Allah Suhanahu Wata'ala murka dan memutuskan hubungan dengan penderitanya, sehinga ia tidak punya hubungan lagi dengan-Nya.

Wallahu A'lam

Keikhalasan ada ketika Anda mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia  Tidak sedikit manusia hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Bila orang itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung. Tapi tak jarang orang itu memakai kekuasaannya untuk memaksa kita bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Di sinilah keikhlasan kita diuji antara memilih keridhaan Allah atau keridhaan manusia yang mendominasi diri kita. Ikhlas ada saat Anda cinta dan marah karena Allah, Adalah ikhlas saat anda menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan anda kepada allah dan keinginan membela agama-Nya, bukan untuk kepentingan pribadi.
Keikhlasan hadir saat Anda sabar terhadap panjangnya jalan Keikhlasan Anda akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimat-Nya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, dan amat sangat penuh dengan godaan dan ujian. Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang bisa tegar menempuh jalan panjang itu. 

Dunia adalah ujian bagi seluruh penghuninya, terutama manusia yang memang telah diciptakan dengan nafsu, akal, dan hati. Manusia yang memang telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala untuk menjadi khalifah di muka bumi, tentu tidak akan ada yang dapat terlewat dari jerat ujian dan cobaan hidup yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Artinya, sebuah perbuatan baru dikatakan sebagai perbuatan yang ikhlas manakala tidak mengharapkan imbalan sekecil apapun, kecuali hanya mengharapkan balasan dan ridho Allah Subhanahu Wata'ala. Hal ini telah disampaikan oleh Allah swt di dalam Al Quran yang artinya: “Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At Taubah : 59) 

Ikhlas, yaitu bersih dari segala bentuk pamrih dan harapan kepada selain Allah swt, sebesar apapun pamrih dan harapan tersebut. Satu-satunya harapan yang boleh dan wajib ada di dalam sebuah keikhlasan hanyalah keridhoan Allah Subhanahu Wata'ala semata. 

Pelajaran bahwa betapa pentingnya nilai sebuah keikhlasan, yakni berbuat kebajikan tanpa pamrih kecuali hanya mencari ridho Allah Subhanahu Wata'ala semata.. Ikhlas ini merupakan ruh ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Karena itu untuk mewujudkan ibadah yang berkualitas kepada Allah Subhanahu Wata'ala.  kita harus pandai-pandai menata niat. Niat inilah yang akan membawa konsekuensi pada diterima atau tidaknya suatu ibadah yang kita lakukan. 

Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya, seseorang itu akan memperoleh apa yang telah diniatkannya. Barang siapa hijrahnya itu karena Allah dan rasulnya, maka ia akan memperoleh pahala dan barang siapa hijrahnya itu karena harta atau wanita, maka ia akan memperoleh apa yang telah diniatkannya itu.” Memang niat mudah diucapkan namun sukar untuk dipraktikkan. Saat kita punya niat baik, maka saat itu juga iblis telah bersiap siaga untuk menjerumuskan dan merusaknya. Padahal awalnya niat itu murni karena Allah. Itulah sebabnya, Ibnu Qoyim mengatakan bahwa ikhlas itu membutuhkan keikhlasan (al-ikhlashu yahtaju ilal ikhlash). Niat itu bersarang dalam hati. Agar ia tetap terjaga utuh, seseorang harus menata niatnya sebelum melakukan amal, ketika melakukannya, dan sesudah selesai. Dan hal itu bisa dimiliki dengan melalui berbagai latihan (riyadhah) mental yang intensif, yakni berusaha menata niat, karena ia tidak akan serta merta bersih dengan sendirinya. Yang perlu diwaspadai, iblis menggoda manusia sesuai dengan kualitas ketaatannya kepada Allah. Semakin berkualitas seseorang kepada Allah, maka akan digoda oleh iblis kelas berat. 

Di sinilah pentingnya kita selalu memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wata'ala untuk menjaga niat. Apalagi manusia memiliki nafsu yang cenderung mengarahkan kepada hal-hal yang buruk dan jahat. Bila ia tidak diarahkan sebagaimana mestinya, maka ia akan bekerja sama dengan iblis untuk merusak niat seseorang, baik itu lewat penyakit ujub, riya, dan sum’ah. Kunci ibadah adalah ikhlas. Dan ikhlas itu ada di dalam hati orang yang melakukan amal tersebut. Maka sah atau tidaknya pahala amal itu, tergantung pada niat ikhlas atau tidak hati pelakunya. Jika dalam melakukan amal itu hatinya bertujuan untuk mendapat pujian dari manusia, maka hal itu berarti tidak ikhlas. Akibatnya amal ibadah yang diusahakannya tidak menerima pahala dari Allah. 

Wallahu A'lam