Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts
Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts

Suatu hari, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berkumpul dengan para sahabat. Rasulullah berkata, “Umatku akan tertimpa penyakit umat-umat terdahulu.”

Para sahabat bertanya, “Apakah penyakit itu, ya, Rasulullah?”

Nabi menjawab “Berbuat jahat, menentang kebenaran, berlomba-lomba dan bersaing dalam kekayaan, saling menjauhi dan bersikap dengki , sehingga muncul pembangkangan dan kekacauan” (HR. Thabrani).

Tak sedikit waktu yang diberikan untuk hidup, sehingga hendaknya tak melewatkan kesempatan untuk mencermati penyakit-penyakit umat terdahulu yang mungkin bersarang dalam diri kita sendiri. Meskipun tak menyadari dan menyukainya, tak tertutup kemungkinan di antara kita telah menjadi pewaris-pewarisnya atau bahkan penyebar-penyebarnya.

Sungguh bila dicermati, penyakit-penyakit yang disebutkan Rasulullah itu, seperti kejahatan, kedengkian, berlomba-lomba dalam kekayaan, dan berlain-lain, kini semakin akut dan parah. Sehingga membuat hubungan dengan saudara-saudara seiman pun menjadi renggang dan bahkan tercerai-berai. Hal ini terus berlangsung bahkan di bulan kelahiran Nabi.

Namun anehnya, banyak yang malu mengakuinya. Untuk menutupi kejahatannya, sebahagian orang menyewa pembela berlapis-lapis. Ini suatu pertanda bahwa jangankan orang lain, diri sendiri pun sebenarnya tidak senang atau tidak mau menerima perbuatan jahat diri sendiri. Ini bermakna bahwa perbuatan-perbuatan itu sifatnya hina dan memalukan. 

Dan melakukannya terus-menerus adalah bentuk penghinaan terhadap diri sendiri secara berkelanjutan. Yang jelas sudah diberitahukan, surga tidak akan menerima orang-orang yang gemar berbuat kejahatan, kecuali bagi yang telah bertaubat.

Betapa meruginya seorang anak manusia bila pohon yang ditanam, apalagi sudah menghabiskan modal yang tak sedikit dan menunggu bertahun-tahun, tidak berbuah. Begitu perumpamaan dalam mencari ilmu....?  Umumnya manusia menghabiskan uang yang tak sedikit, umur yang banyak, dan kelelahan yang tiada terhingga, untuk menuntut ilmu.

Namun ketika memperolehnya, ilmu tersebut kadangkala bagaikan pohon yang tak berbuah atau buah yang tak dapat dinikmati.

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, buah dari ilmu menyebabkan seorang hamba dipuji Allah. Tentunya tak akan mendapat pujian dari Allah bila tidak mengamalkan ilmu dengan menunjukkan ketaatan dan ketakutan kepadaNya. Dalam Alquran disebutkan, 

"Yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu" (QS. Fathir: 28).

Namun, ketaatan dan ketakutan seseorang hamba kepada Allah bukan hanya akan terlihat dari bagaimana ia memelihara hubungan baik denganNya, tetapi juga bagaimana memelihara hubungan baik dengan sesama manusia. Santun dalam berbicara, bijak dalam membuat keputusan, dan adil dalam membuat penilaian, merupakan di antara wujudnya.

Namun terkadang manusia lupa terhadap ilmu yang telah disapih bertahun-tahun. Ilmu kadang dijadikan kotak pemisah dirinya dengan orang banyak, sehingga tidak memberi manfaat bagi perbaikan umat. Yang lebih parah, ilmu dijadikan lambang keangkuhan.

An-Nawawi rahimahullah mengingatkan bahwa sungguh tercela orang yang menuntut ilmu karena menginginkan dunia seperti harta, kepemimpinan, jabatan, kedudukan, popularitas, supaya orang lain cenderung kepadanya, untuk mengalahkan lawan debat dan tujuan semacamnya.

“Wahai anakku, kalau sewaktu kecil kamu rajin belajar, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, maka sewaktu dewasa kelak kamu akan memetik buahnya dan menikmatinya” (Luqman al-Hakim).

Sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah termasuk golongan yang awal awal masuk Islam. Ayahnya seorang tokoh Quraisy yang selalu melakukan pertentangan terhadap dakwah Nabi SAW. Meski begitu Abu Ubaidah bin Jarrah r.a tetap istiqomah dalam keimanannya. Untuk menyelamatkan keimanannya dia rela hijrah ke Habsyah pada gelombang kedua. Abu Ubaidah bin Jarrah r.a seorang mujahid yang gagah berani. Meski tubuhnya kurus tinggi tapi semangat juangnya tidak pernah mau kalah dengan Sahabat yang lain. Pada saat perang Badar di termasuk dalam barisan utama. Dengan segala perbekalan yang minim dan jumlah pasukan yang lebih sedikit tidak gentar melawan pasukan kafir Quraisy.

Demikian juga pada waktu perang Uhud, dia juga ikut bersama rombongan Nabi SAW berjuang di medan Uhud. Ketika pertempuran berlangsung dengan sengit dan posisi pasukan Islam terdesak Abu Ubaidah bin Jarrah r.a melihat Nabi SAW dalam kondisi terjepit. Saat itu banyak pasukan yang kocar kacir dan berhamburan tidak dalam formasi pasukan yang sigap, Abu Ubaidah bin Jarrah r.a maju dan mendekati Nabi SAW. Didapatinya pipi Nabi SAW terluka, yaitu terhujamnya dua rantai besi penutup kepala beliau SAW, segera ia berupaya mencabut rantai tersebut dari pipi Nabi SAW .

Abu Ubaidah mulai mencabut rantai tersebut dengan gigitan giginya. Rantai itupun akhirnya terlepas dari pipi Rasulullah SAW . Namun bersamaan dengan itu pula gigi seri Abu Ubaidah ikut terlepas dari tempatnya. Abu Ubaidah tidak jera. Diulanginya sekali lagi untuk mengigit rantai besi satunya yang masih menancap dipipi Rasulullah SAW hingga terlepas. Dan kali inipun harus juga diikuti dengan lepasnya gigi Abu Ubaidah sehingga dua gigi seri sahabat ini ompong karenanya. Sungguh, satu keberanian dan pengorbanan yang luar biasa.

Di medan Uhud ia berhasil mendapati ayahnya yang kafir sedang membunuh pasukan Islam. Segera ia mendekati ayahnya. Dibuangnya rasa kasihan terhadapnya. Pada hari itu keimanannya diuji untuk memilih Allah dan syariatnya atau memilih ayah yang selalu menentang Allah dan syariatnya. Abu Ubaidah memilih Allah dan syariatnya dan majulah terus ia merangsek ayahnya hingga terkulai.

Abu Ubaidah r.a seorang yang zuhud. Beliau cukup makan tepung yang kasar dan air minum secukupnya. Pada waktu Khalifah Umar bin Al Khattab r.a ia mendapat tugas sebagai Gubernur di Syiria. Sebagai Gubernur ia berhak mendapat uang gaji baitul mal dan fasilitas guna menunjang tugas tugasnya.

Tapi keadaanya sangat berbeda di kediamannya hanya terdapat pedang, perisai dan pelana tunggangannya. Tak ada simbol simbol kemewahan sebagi seorang Gubernur. Dia hidup nikmat dengan kemiskinannya dan dia merasa lebih tenang dengan hidup seperti itu. Umarpun lantas berkata,”Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu sebagaimana orang lain mengambilnya ?” Beliau menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, ini saja sudah cukup menyenangkan.”

Lelaki mulia ini wafat ketika terjadi wabah penyakit tho’un di Syria.

Keutamaan seorang Abu Ubaidan bin Jarrah r.a akan makin kita temui dari sebuah hadits Nabi SAW yang berbunyi “Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Wallahu A'lam

Berkah adalah sesuatu yang tumbuh dan bertambah, sedangkan tabarruk adalah do’a seorang manusia atau selainnya untuk memohon berkah. Allah SWT menjadikan berkah hanya bagi hamba-Nya yang beriman, bertaqwa dan shaleh. Firman Allah dalam surat Al-A’raaf ayat 96 yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Beberapa sebab dicabutnya Berkah :

  • Tidak adanya Taqwa dan Tidak takut kepada Allah SWT.
  • Tidak Ikhlas dalam beramal.
  • Tidak menyebut nama Allah SWT dalam setiap perbuatan dan tidak melakukan Dzikir serta Ibadah kepada-Nya. Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan Bismillah, maka perbuatan itu terputus untuk memperoleh kebaikan dan berkah, bahkan perbuatan anda tersebut akan disertai syetan.
  • Memakan barang yang haram dan yang dihasilkan dari perbuatan haram.
  • Tidak berbakti kepada kedua orang tua dan menyia-nyiakan hak anak.
  • Memutus tali silaturahmi dan hubungan kekerabatan.
  • Sikap Bakhil dan tidak mau ber-infaq. Allah SWT tidak akan memberkahi harta yang hanya disimpan oleh pemiliknya dan enggan untuk menginfakkannya, karena perbuatan tersebut adalah perbuatan bakhil yang sangat tercela dan dibenci.
  • Tidak bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
  • Tidak Ridha terhadap apa yang diberikan Allah dan tidak pernah merasa puas (tidak qana’ah).
  • Melakukan perbuatan maksiat dan dosa, serta enggan bertaubat dan beristighfar.
  • Tidak mendidik anak dengan ajaran agama.Anak kita adalah tumpuan hati kita, pengharum jantung kita, pewangi aroma dunia dan buah kehidupan kita. Siapa saja yang berlaku buruk terhadap anak maka ia telah merugi dan telah melakukan ketidak patutan. Anak kita adalah madu kehidupan kita.
  • Berbuat kerusakan dan keburukan dimuka bumi.
  • Tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya.
  • Pertengkaran dan perselisihan antara suami-istri.
  • Mendoakan buruk diri sendiri, anak-anak dan harta benda.

Tidak ada kebaikan dan keberkahan pada dirimu, anakmu atau harta bendamu jika engkau mendoakannya dengan kecelakaan, karena terkadang Allah mengabulkan doamu pada saat itu, maka terjadilah musibah dan engkau menyesal ketika penyesalan tak berguna lagi.

Rayakan Berkah Kehidupan.

Mengenali dan mengakui orang-orang dan keadaan yang membawa kegembiraan, kenyamanan, dukungan dan kebijaksanaan. Berkah tidak terbungkus dalam barang uang atau materi. Berkat ada aliran dukungan dan kemurahan hati yang merangkul hidup Anda. Perkataan yang baik dapat menjadi berkah. Tawaran bantuan dapat menjadi berkah, Waktu yang dihabiskan dengan orang yang dicintai bisa menjadi berkah, Setiap kali Anda berbagi rasa syukur dan penghargaan lain, Anda menyampaikan penghargaan ke dunia.

Buat Openings

Dalam setiap zaman, di setiap waktu, ada orang-orang yang sedang mengalami kesulitan. Selalu ada saat terjadi gejolak dan kebingungan. Mungkin muncul bahwa karena peningkatan kegiatan teroris di dunia atau perang atau kesal dengan kondisi keuangan, yang terbaik adalah untuk menjaga energi Anda dekat dengan Anda.

Jangan biarkan semua ini menghentikan Anda. Jangan biarkan itu menghambat ekspansi dari keberadaan Anda. Untuk setiap satu orang yang melakukan kejahatan dan menyebarkan kemarahan dan ketakutan, ada ribuan orang yang membawa kasih, penghargaan dan kepedulian baru ke dunia. Fokus pada orang-orang yang anda ingin berkahi. Ketahuilah bahwa perhatian Anda untuk aliran kemurahan hati dan cahaya membawa aspek-aspek kemanusiaan menjadi tenaga yang lebih besar.

Fokus pada Cahaya

Hal ini selalu perlu untuk memanfaatkan fokus Anda ke daerah-daerah yang melayani dan mencerahkan. Anda dapat membuat perbedaan besar dalam dunia dengan memfokuskan perhatian dan tindakan Anda. Anda mungkin tidak merasa nyaman menulis kepada para politisi untuk meminta mereka untuk menghentikan proliferasi kebencian dan kontrol. Anda mungkin tidak merasa siap untuk pergi ke masyarakat dan mengambil tugas untuk menyembuhkan pelanggaran sistem melemahkan politik atau sosial. Masih begitu banyak yang dapat Anda lakukan untuk mengangkat dunia dan menyebarkan berkah tertinggi.

Akui semua orang yang Anda tahu mereka berkontribusi terhadap hidup Anda. Ya! Keluarga Anda dan teman-teman yang telah memberkati hidup Anda dalam banyak cara. Mereka telah membantu Anda dalam bimbingan yang diberikan. Mereka telah membawa Anda kedalam sukacita kehidupan. Biarkan mereka tahu betapa anda menghargai kontribusi mereka terhadap hidup anda. Majikan dan karyawan telah mendukung kemakmuran anda. Menyampaikan terima kasih dan berkah orang di sekitar anda yang telah memberikan kontribusi untuk hidup anda. Dengan melakukan ini anda akan mulai berbagi dalam hati yang jelas yang akan menyebar apresiasi ke dunia luas.

Ambil Tindakan Tulus

Mengambil tindakan yang tulus bagi orang lain. Fokus Anda adalah kunci, tetapi tidak hasilnya. Fokus pada kebaikan tertinggi tidak secara khusus menghasilkan kebaikan tertinggi, itu hanya langkah untuk menunjukkan dan meraih jalan kedalam hal itu. Lalu apa yang Anda lakukan? Anda bertindak! Membuat panggilan telepon ke teman dan orang yang dicintai, Mengirim kartu apresiasi kepada orang-orang dalam kehidupan Anda. Mendukung keuangan kesejahteraan mereka yang membuat perbedaan di dunia. Beli buku-buku, karya seni dan produk dari mereka yang bekerja untuk mengangkat hidup Anda dan komunitas global. Berbelanja di toko-toko yang mendukung komunitas Anda. Menyebarkan cahaya dan penghargaan mana pun Anda pergi.

Berbagi Berkah

Ketika Anda mengakui berkat anda, anda meningkatkannya. Ketika anda berbagi berkat anda, anda melipatgandakan mereka. Semoga Berkah menjadi yang selalu ada dalam hidup anda.

Sering melakukan perbuatan dosa, akan melemahkan perasaan seseorag dimana seseorang tersebut akan menganggap dosa besar sebagai dosa kecil. Skala perbandingan antara meremehkan dosa menjaga diri dari dosa adalah relative. Jika iman & takwa kuat, maka para hamba akan menghormati perintah Allah dengan cara berusaha untuk segera melaksanakannya. Mereka juga akan menghormati larangan Allah, sehingga mereka berhati-hati dan berusaha menjadi orang yang paling jauh dari larangan-Nya. 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud, Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil karena bila berkumpul pada seseorang akan menghancurkan dirinya.” Dan, sesungguhnya Rasulullah SAW membuat perumpamaan, bagaikan suatu kaum yang turun ke suatu lembah, lalu hadir pemimpin kaum itu dan menyuruh setiap orang membawa satu potong kayu kecil dan terkumpullah setumpuk kayu yang banyak lalu dibakar sehingga bisa membakar apa saja yang dilempar ke dalamnya.(HR Ahmad).

Imam Ghazali berkata, “Dosa-dosa kecil saling menarik sahingga pada akhirnya orang mukmin bisa mengahancurkan pokok keimanannya.” ( Faidhul Qadir juz II hal 127). Para ulama terdahulu sudah mewaspadai bahaya dosa-dosa kecil dan besar sehingga mereka berusaha menjauhinya. Bahkan, mereka melihat dosa-dosa kecil sebagai dosa besar.

Al-Ghazali menambahkan, dosa kecil menjadi besar karena menganggap kecil dosa tersebut atau karena dilakukan secara terus-menerus. Bila seseorang menganggap yang kecil sebagai dosa besar maka menjadi kecil di hadapan Allah. Dan, sebaliknya bila menganggap dosa sebagai dosa kecil maka dianggap besar di hadapan Allah. Karena, orang menganggap dosa sebagai besar karena adanya penolakan hati untuk melakukannya.

Anas ra berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian melakukan amalan yang menurut kamu lebih kecil dari rambut, padahal kami di masa Nabi menganggapnya sebagai dosa-dosa besar. Rasulullah menegaskan dalam hadisnya bahwa seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya sehingga mati. Dia tidak memberi makan minum dan tidak membiarkan kucing memakan dari tumbuhan di tanah.” (HR Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah).

Karenanya, bila seorang menganggap remeh dosa-dosa kecil maka imannya sudah terkontaminasi dan hilanglah kewibawaannya karena selalu menganggap kecil segala sesuatunya. Dosa kecil bisa menjadi perusak iman karena dua hal; banyaknya dosa kecil terkadang bisa menjadi malapetaka iman. Dan, menganggap remeh dosa kecil akan menjadi dosa besar di hadapan Allah.

Untuk itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah muhasabah. Seperti dikatakan Ibnu Masud, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan dia duduk dan di atasnya ada gunung yang khawatir akan menindihnya, tetapi orang kafir melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di atas hidungnya.”

Ada dua hal yang menyebabkan dosa-dosa kecil menjadi berbahaya. Pertama, jumlahnya yang menumpuk hingga membawanya pada kehancuran. Kedua, menganggap remeh dosa-dosa kecil dan Allah menganggapnya sebagai dosa besar.

Sikap yang kedua, bermujahadah dan terus berusaha melawan godaan setan. Ketiga, mengetahui akibat negatif dosa yang akan menimbulkan ketidaktenteraman hati, kesengsaraan, dan siksa neraka yang pedih. Keempat, menjauhi semua penyebab dosa dengan cara menjaga pandangan mata, lisan, dan kemaluan. 

Wallahu A’lam.

Banjir Arab Saudi 2009 menerjang Jeddah di pesisir Arab Saudi di Laut Merah (barat) dan wilayah lain di Provinsi Makkah. Menurut pejabat pertahanan sipil, banjir ini adalah yang terburuk dalam 27 tahun terakhir. Pada hari Jumat, 27 November 2009, 83 orang dilaporkan tewas, dan lebih dari 350 lainnya hilang. Beberapa jalan masih digenangi air setinggi satu meter (tiga kaki) pada hari Kamis, 26 November, dan banyak korban terjebak di dalam kendaraannya: jumlah kematian diperkirakan meningkat ketika air surut, memungkinkan petugas penyelamat mencapai kendaraan yang terjebak.


Curah hujan lebih dari 90 milimeter (3½ inci) jatuh di Jeddah selama empat jam pada hari Rabu, 25 November, hampir dua kali rata-rata tahunan dan curah hujan terbesar di Arab Saudi dalam satu dasawarsa terakhir. Banjir datang dua hari sebelum tanggal perayaan Idul Adha dan Haji di Makkah. Bencana berupa banjir besar di Jeddah beberapa waktu yang lalu telah menimbulkan kehebohan. Peristiwa yang terjadi tahun 2009 persis pada saat jamaah haji sedang bersiap-siap untuk wukuf di Arafah tentunya tidak terlepas dari fenomena global climate change (perubahan iklim dunia) khususnya global warming pemanasan global. Global warming telah menimbulkan berbagai anomali iklim di berbagai sudut dunia. Di satu sisi negeri-negeri yang biasanya dibasahi hujan mengalami kekeringan yang luar biasa. Sementara itu negeri-negeri yang biasanya diterpa panas disertai kelembaban udara rendah justru diguyur hujan hingga kadangkala mengakibatkan banjir.

Seorang muslim yang rajin membaca dan beriman kepada Kitabullah Al-Quran Al-Karim dan hadits-hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tidak akan begitu saja menerima penjelasan para pakar. Mereka selalu berusaha merujuk dan mencari jawaban dari dua sumber utama kehidupannya, Kitabullah was-Sunnah. Penulis sendiri berpendapat setidaknya ada tiga dalil yang perlu menjadi perhatian kita. Satu dalil bersifat umum dan berlaku sepanjang masa. Dua sisanya terkait dengan fenomena dan tanda-tanda semakin dekatnya Hari Kiamat. Pertama, secara garis besar Allah telah mengingatkan bahwa keimanan dan ketaqwaan penduduk suatu daerah akan memastikan datangnya keberkahan Allah baik dari langit (atas) maupun dari bumi (bawah).

Namun sebaliknya, Allah juga peringatkan, bila sikap dominan suatu kaum justeru mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah tidak segan-segan mendatangkan siksa dan derita bagi kaum tersebut. Ini merupakan suatu sunnatullah yang pasti dan jelas. Maka sudah sepatutnya peringatan Allah pada ayat-ayat berikutnya menjadi perhatian utama semua fihak.

Perlu diketahui bahwa jika kecenderungan perubahan iklim global berlanjut terus seperti yang terjadi dewasa ini, maka tidak mustahil anomali iklim seperti yang terjadi kemarin di Jeddah akan berulang kembali pada tahun-tahun yang akan datang. Akan semakin sering turun hujan dengan guyuran yang tidak seperti biasanya di bumi Arab. Bila ini benar, maka masyarakat di tanah Arab harus semakin mengantisipasi kemungkinan banjir tahunan. Dan wilayah yang sering diguyur hujan tentunya akan menjadi wilayah yang potensial menjadi subur dan tidak lagi dihiasi padang pasir seperti jazirah Arab dewasa ini. Tidak mustahil dalam jangka panjang justeru tanah Arab akan dihiasi oleh padang rumput bahkan aliran sungai.


Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah memprediksi bahwa di antara tanda-tanda semakin dekatnya hari Kiamat ialah bilamana tanah Arab kembali dihiasi oleh padang rumput dan aliran sungai-sungai. Ungkapan ”kembali” mengisyaratkan bahwa memang pada asalnya tanah Arab itu wilayah yang subur tidak tandus seperti yang kita saksikan dewasa ini. Subhanallah...

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا

”Tidak akan datang hari Kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi rerumputan dan sungai-sungai.” (HR Ahmad)

Saudaraku, berarti memang benarlah kita dewasa ini telah berada di Akhir Zaman. Tanda-demi tanda Akhir Zaman bermunculan di sekitar kita. Jarum jam berputar terus kian hari kian mengingatkan kita akan dekatnya hari Kiamat. Namun........ ada satu atau dua dan bahkan tiga atau empat tanda - tanda besar yang harus datang, sebelum Kiamat benar - benar dekat. 

apa itu......... ?

Wallahu A'lam

Jabir bin Abdullah berkata, “Pada suatu hari sewaktu saya bersama baginda Rasulullah SAW maka tiba-tiba datang seorang lelaki yang berwajah putih bersih, rambutnya pun sangat cantik dan dia memakai pakaian yang putih.

Lalu dia menghampiri Rasulullah SAW dengan berkata: “Assalamualaikum ya Rasulullah, apakah artinya dunia itu?”Maka Rasulullah SAW pun bersabda,”Dunia itu adalah impian orang yang tidur".

”Bertanya orang itu lagi, “Apakah artinya akhirat itu ya Rasulullah SAW?”Bersabda Rasulullah SAW, “Satu kumpulan manusia yang berada didalam Syurga dan satu kumpulan lagi berada didalam Neraka Sa’ir.

”Orang itu bertanya lagi, “Apakah Syurga itu?”Bersabda Rasulullah SAW, “Sebagai ganti dunia untuk mereka yang menjauhkan dunia, karena sesungguhnya nilai harga Syurga itu sama dengan menjauhkan dunia ini.

”Bertanya orang itu lagi, “Apakah Jahanam itu?”Maka bersabda Rasulullah SAW, “Jahanam itu adalah sebagai ganti dunia bagi mereka yang mencarinya.

”Bertanya orang itu lagi, “Siapakah sebaik-baik umat ini?”Bersabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik umat ialah yang taat kepada Allah SWT.

”Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana yang dikatakan orang yang taat itu?”Bersabda Rasulullah SAW, “Orang yang berusaha bersungguh-sungguh sebagaimana orang mencari kafilah.”Orang itu bertanya lagi, “Seberapakah ketentuan taat itu?”Bersabda Rasulullah SAW, “Seperti kira-kira perbedaan dari kafilah.

”Bertanya orang itu lagi, “Berapa jarak jauhnya dunia dengan akhirat?
”Bersabda Rasulullah SAW, “Hanya sekadar memejamkan mata saja.

”Jabir melanjutkan ceritanya, “Setelah orang itu pergi kami tidak lagi melihat orang itu selepas itu.”Rasulullah SAW bersabda, “Lelaki yang datang tadi adalah Jibril as, dia datang kepada kamu supaya kamu semua menjauhkan diri dari dunia dan supaya kamu mencintai akhirat".


Bersabda Rasulullah SAW lagi, “Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan makhluknya yang lebih dibenci selain dunia, bahkan Allah tidak melihatnya sejak menciptakannya.”Dunia ini adalah satu alam khayalan yang mana satu masa nanti juga akan musnah, jadi apalah gunanya kita mengejar dunia setelah kita tahu bahwa akhirat saja yang kekal.Gunakanlah dunia ini untuk kita mengumpulkan bekal amal untuk dibawa ke akhirat, janganlah kita menjadi orang bodoh, sebab orang yang bodoh hanya suka mengejar dunia. Seluruh masa dan tenaganya dihabiskan semata-mata untuk mendapatkan dunia". (dari berbagai sumber)

Wallahu A'lam 

Kegelisahan terlahir akibat tidak adanya keseimbangan antara harapan dari hati, pikiran dan kenyataan. Adanya permasalahan hidup manusia muncul kepermukaan lebih disebabkan oleh hanya semata-mata dipersepsikan pada logika berpikir yang sempit. Itulah sebabnya, mengapa kebanyakan dari kita mendefinisikan masalah berupa kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang terjadi. lebih dari itu, harusnya dalam hidup seorang mukmin segala apa yang terjadi dalam kehidupan ini diposisikan semata-mata atas kehendak-Nya.

Bukan mengandalkan semata-mata pada persepsi akal manusia, sebab kadang kala akal ini terselimuti oleh tumpukkan kotoran-kotoran hawa nafsu manusia itu sendiri. Allah Swt dalam QS. Taghaabun [64]: 11, mengingatkan kepada kita bahwa "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya"

Ketidakadaan atau tenggelamnya kesadaran pola pikir seperti itu, maka akan melahirkan kegelisahan hidup manusia. Pasalnya bagi manusia model demikian tidak menyadari sepenuhnya akan sunnatullah kehidupan manusia yang selalu dihadapkan pada sejumlah besar tantangan. yang pada hakikatnya bukan untuk dihindari, melainkan justru untuk dilakoni. Hidup itu sendiri adalah tantangan, dan ketika ada masalah maka yang harus dilakukan oleh manusia adalah memperbaikinya. Mengapa kita mesti menghindar? Di sinilah kadang-kadang kita lupa pada kesejatian diri. karena "sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri"


Di mana pun dan kapan pun kita hidup, masalah dan tantangan serta rintangan akan selalu datang menjemput. Hidup adalah inheren, sekaligus identik, dengan masalah dari tantangan itu sendiri. Kalau kita menghadapinya dengan hati tegar dan ikhlas, semua masalah itu akan sirna. Kalau kita tertelikung dengan masalah, sesungguhnya bukan masalah itu sendiri sebagai masalah dan akan semakin menambah masalah. karena sejatinya yang menjadi masalah adalah cara kita sendiri yang salah dalam menghadapi masalah.

Bagi sebagian orang kegelisahan hati itu muncul didasari oleh perilaku kita yang belum sampai ke tingkat yakin akan sangat dekatnya pertolongan Allah. Artinya segala persoalan dan kesulitan yang ada dan menimpa kita sekecil apapun justru seringkali membuahkan rasa cemas dan gudah gulana yang membuat gelisah hatinya.

Kondisi hati yang gelisah akan berdampak pada persepsi menyikapi hari demi hari hidupnya dengan aneka keluh kesah, amarah, dan perilaku yang serba salah. Lebih jauh kondisi ini menyebabkan hidup terasa sumpek, mumet, rumit, dan membuat sakit kepala menghinggapi kita.

Kesannya, segala yang tersaji di hadapan kita, terasa semakin membebani hati dan pikirannya. disinilah Pentingnya Meredam Resah dan Gelisah yang ada dihati. Keberadaan masalah dalam hidup adalah sesuatu yang wajar. Namun, manakala sikap kita yang tidak tepat dalam menghadapi dan memposisikan masalah tersebut, maka inilah sebenarnya yang menjadi awal munculnya penyakit gelisah hati. Adanya gelisah hati dalam hidup kita, bila tidak hati-hati tentu tidak jarang akan menjadi jalan yang terbentang bagi terjerumusnya ke jurang kesalahan yang semakin menambah masalah.

Sehingga bukannya diri ini terhindar atau melupakan segala petaka gelisah hati, justru malah menambah berat beban langkah hidupnya. Inilah buah dari salah sikap dan perilaku kita dalam memaknai masalah kegelisahan hati. Untuk itu, sedini mungkin setiap kita sudah seharusnya belajar untuk meredam setiap masalah yang dapat memunculkan gelisah hati. Inilah kunci awal untuk mencapai ketentraman hidup.

Dengan demikian, dalam hidup manusia sangat diperlukan adanya perilaku meredam gelisah hati. Pentingnya meredam gelisah hati ini, tidak lain didasarkan pada kenyataan bahwa perasaan cemas, gelisah, keluh kesah, dan amarah jelas tidak akan mengubah apa pun, malahan justru akan menyengsarakan hati dalam jurang kegelisahan berikutnya.

Bersambung Ke Catatan Selanjutnya Insya Allah 

Wallahu A'lam

5 Tanda Orang Bertaqwa menurut Sayyidinna Usman bin Affan :

Tidak suka bergaul kecuali bergaul dengan orang-orang yang sholeh / sholehah, yang menjaga lisannya.

Seperti penggalan lagu Tombo Ati, salah satunya adalah bergaul dengan orang-orang sholeh karena kita akan mendapatkan banyak dakwah, masukan, kritik yang membangun dan ketenangan bila mendapatkannya dari orang-orang yang hanya mengucap kebenaran.

Jika mendapat musibah duniawi, ia menganggapnya sebagai ujian dari Allah SWT.

Salah satu yang mengangkat diri kita di mata Allah adalah lulusnya kita dari ujian yang diberikanNya. Ujian bukan hanya yang bersifat bala musibah, namun kenikmatan dalam hidup ini adalah ujian yang lebih besar. Bila diberikan musibah orang lebih mudah ingat kepada Allah namun saat diberi ujian kenikmatan, saat itulah Allah benar-benar sedang menguji kita.

Jika mendapat musibah dalam urusan agama ia akan sangat menyesalinya.

Teringat cerita Syaidina Umar bin Khattab yang ketinggalan satu rakaat shalat Ashar di Masjid hanya karena beliau sedang asyik berada dalam kebun kurmanya. Mengetahui dirinya telah tertinggal satu rakaat dalam berjamaah, Syaidina Umar pun begitu menyesali perbuatannya sehingga kebun kurma yang dianggap sebagai penyebab musibah itu akhirnya dijual.

Tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan haram & tidak sampai kenyang.

Ini merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah yang berbunyi ‘Makanlah sebelum engkau lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang‘. Sungguh suatu perintah yang seakan-akan mudah dilaksanakan namun saat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari betapa sulitnya melakukan hal itu. Dari sinilah bentuk ketakwaan seorang mukmin dibentuk.

Apabila memandang orang lain, orang itu lebih sholeh dari dirinya. Tapi bila memandang diri sendiri, dirinya adalah orang yang penuh dosa.

Nampaknya banyak diantara kita, apalagi yang telah diberikan hidayah dari Allah berupa kenikmatan dalam beribadah, kemudahan dalam bertahajud, keringanan dalam berpuasa sunah atau keindahan dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, mudah menganggap dirinya lebih sholeh dibanding lainnya. Padahal sikap merendah adalah salah satu yang dianjurkan oleh Rasul. Belajar tawadhu’ dan senantiasa melakukan amal ibadah tanpa membandingkan dengan orang lain adalah start yang baik untuk meningkatkan kualitas ketakwaan diri.







Ada 4 waktu yang tidak boleh disia-siakan, yaitu:

Waktu untuk bermunajat

Setiap saat, bahkan saat mau tidur pun disunnahkan bertasbih, berzikir atau membaca Kalamullah. Bila kita tertidur saat kita sedang bermunajat, insya Allah kita dianggap sedang berdoa selama kita tidur, subhanallah.

Waktu untuk meminta maaf dan berterima kasih

Tanpa pernah tahu kapan kepulangan kita ke Illahi Robbi, manfaatkan waktu yang ada untuk meminta maaf atas segala kesalahan kita dan berterima kasih kepada siapa-siapa yang telah membantu kita dalam hal apapun. Terutama bagi yang masih memiliki orang tua, sekarang juga kirim doa dan hubungi mereka, ucapkan maaf dan terima kasih atas segala yang telah mereka lakukan kepada kita.

Waktu untuk mengevaluasi diri

Bertafakur, mengingat-ingat kembali dosa yang pernah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali adalah perbuatan terpuji. Kadang dengan seringnya kita mengevaluasi diri kita, apa-apa yang menjadi kekurangan maupun kelebihan dalam hidup ini, dapat menjadikan modal yang berharga untuk masa depan.

Waktu untuk beramal sholeh

Tidak perlu menunggu tanggal gajian, seberapapun yang kita miliki saat melihat ada yang sedang membutuhkan, mari ulurkan tangan. Allah akan melihat sekecil apapun amal ibadah kita dan akan menggantinya berlipat ganda apabila keikhlasan ada dibalik perbuatan kita membantu sesama.

Wallahu A'lam

Hati yang gelisah.. Hembusan nafas yang terdengar jelas seolah menyayat hati
Dimanakah ketenangan jiwa itu berada ? Dapatkah di temukan di balik hening malam ?
Siapakah yang dapat memahami ? Terdengar jelaskah teriakan hati ?
Cukupkah di jelaskan melalui hujan yang deras ? Dimanakah ketenangan jiwa itu berada ?
Bersembunyi di balik pepohonan ? Ataukah jauh di atas awan ?
Angin yang berhembus dapatkah menyampaikan rasa ?

Hati yang gelisah......
Maukah engkau menenangkannya wahai sahabat ?
Bahkan hujan yang turunpun tak menyisakan pelangi
Bagaimanakah Meredam Gelisah Hati
Untuk Menggapai Ketentraman Hidup ini

Hati yang gelisah.....

Saat malam mulai larut , Suasanapun semakin senyap
Aku terbujur dalam kekakuan, Karena hati terpasung dalam kesepian
Kesedihan dengan kesendirian ,Seakan menggugurkan sejuta harapan
Sepinya malam berlalu sudah, Pagi datang mengawali hari baru
Aku terbangun dari panjangnya malam , Perlahan aku bergerak,
Berdiri dan kubuka jendela , Tersiratlah cahaya mentari pagi

Menyinari……

Menghempaskan semua khayalan kepahitan
Memang, Aku harus tetap tegar berdiri
Songsong hari yang baru
Sambut dengan sesuatu yang indah

Wujudkan misteri cita dan cinta
Sambutlah Berikan dia senyum
Warnailah hari-hari dengan cinta
Demi hari esok yang lebih baik

Bila Hati Gelisah ('_") semua jadi tak tentu arah

Jawab : 

130 orang menyukai ini.

Alqur’an merupakan sumber utama ajaran Islam, di mana di dalamnya terkandung hidayah bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan agar selamat dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Antara hidayah Alquran kepada manusia:

pertama, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Ilahi. Ajaran Alqur’an membimbing manusia agar keluar dari kegelapan yang berupa kekafiran, kesesatan dan kebodohan menuju cahaya Ilahi yang berupa keimanan, keislaman dan ilmu pengetahuan.

Allah SWT berfirman: Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(Q.S. Ibrahim [14]: 1).

Kedua, membimbing kehidupan manusia menuju jalan yang lurus, baik dan adil. Ini dicapai dengan mengikuti ajaran Islam yang shahih dan jalan tauhid yang ditunjukkan Alquran. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Alqur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Q.S. Al-Israa’ [17]: 9).

Ketiga, memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dan peringatan kepada orang-orang ingkar (kafir). Alquran menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman melalui amal soleh yang mereka lakukan, akan mendapat pahala berlipat kali ganda dan akan dibalas dengan kebaikan di dunia dan syurga di akhirat. Sebaliknya, orang-orang ingkar akan mendapat balasan buruk diakhirat. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Alqur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahw bagi mereka ada pahala yang besar, dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih.(Q.S. Al-Israa’ [17]: 9-10).

Keempat, Alqur’an menyembuhkan hati manusia dan menebarkan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Ia menyembuhkan segala penyakit hati, termasuk akhlak tercela. Penyakit hati bersumber dari pemahaman akidah yang salah tentang Allah, malaikat, rasul-rasul, hari akhirat, qadha dan qadar. Kesalahan keyakinan ini membuatkan hati entiasa dalam kegelisahan. Allah SWT berfirman: Dan kami turunkan dari Alqur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alqur’an itu tidaklah menmbah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Q.S. Al-Israa’ [17]: 82). Hati akan semakin hidup dengan adanya iman dan Al Qur’an. Sebagaimana badan semakin hidup dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan dan menguatkannya. Suburnya hati itulah semisal dengan tumbuhnya badan.

Kelima, berisi nasihat dan ibrah (pelajaran). Alquran banyak berisi kisah-kisah penuh hikmah tentang orang-orang terdahulu. Kisah-kisah itu tentu bukan hanya sekadar pemanis dan hiasan Alquran, tetapi adalah pelajaran (ibrah) yang harus diambil oleh umat Islam.

Firman Allah SWT: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alqur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S. Yusuf [12]: 111).

Kelebihan Alquran

Alquran memiliki tiga kelebihan yang tidak dimiliki oleh kitab suci lain.

Pertama, merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca dan dihafal oleh manusia sejak dahulu hingga sekarang dalam bahasa aslinya.

Kedua, merupakan kitab suci yang mendapat perhatian sangat besar, baik oleh pemeluknya maupun oleh orang diluar mereka. Banyak ilmuwan non-Muslim yang mengakui Alquran, baik dari segi tata bahasanya maupun kandungannya.

Ketiga, bagi seorang mukmin, membaca Alquran akan dapat memperkuat imannya serta mendekatkannya kepada Sang Pencipta, dan membaca Alquran termasuk ibadah.

Sebagai seorang Muslim, sudah semestinya kita menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup. Menjadikannya cermin, melihat dan mengukur akhlak dan setiap aktivitas yang kita lakukan. Menjadikannya sahabat yang mengingatkan saat terlupa dan menegur saat alpa. Saat diri terlupa, tersesat dan lemah, maka apakah Alquran sudah kita jadikan sebagai pedoman hidup kita ?

Takwa adalah bekal hidup paling berharga dalam diri seorang muslim. Tanpanya hidup menjadi tidak bermakna dan penuh kegelisahan. Sebaliknya, seseorang akan merasakan hakikat kebahagiaan hidup, baik di dunia mau pun di akhirat apabila ia berhasil menyandang sebagai orang yang bertakwa.

Kata takwa sudah amat akrab di telinga kita. Tiap khutbah Jumat sang khotib senantiasa menyerukannya. Bahkan di tiap bulan Ramadhan, kata taqwa pun menghiasi ceramah-ceramah atau kultum-kultum yang diadakan. Taqwa adalah bekal hidup paling utama.

Ketika Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan paling pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah takwa. Kata Rasulullah SAW, "Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara." [Nasr bin Muhammad bin Ibrahim, Kitab Tanbih al-Ghofilin li Abi Laits As-Samarkindi]

Secara lughah (bahasa), takwa berarti: takut atau mencegah dari sesuatu yang dibenci dan dilarang. Sedangkan menurut istilah, terdapat pelbagai pengertian mengenai takwa. Ibn Abbas mendefinisikan, taqwa adalah takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya.

Imam Qurthubi mengutip pendapat Abu Yazid al-Bustami, bahwa orang yang bertakwa itu adalah: "Orang yang apabila berkata, berkata karena Allah, dan apabila berbuat, berbuat dan beramal karena Allah." Abu Sulaiman Ad-Dardani menyebutkan: "Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang kecintaan terhadap hawa nafsunya dicabut dari hatinya oleh Allah.". Sedangkan Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan, bahwa hakikat taqwa adalah taqwa hati, bukan takwa anggota badan."

Umumnya, para ulama mendefinisikan taqwa sebagai berikut: "Menjaga diri dari perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji dan dosa-dosa besar, serta berperilaku dengan adab-adab syariah." Singkatnya, "Mengerjakan ketaatan dan menjauhi perbuatan buruk dan keji." Atau pengertian yang sudah begitu populer, taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

Dari definisi-definisi di atas menunjukan bahwa urgensi taqwa sudah tidak diragukan lagi, apalagi Al-Qur'an dan hadis Nabi SAW. secara berulang-ulang menyeru kita supaya bertaqwa. Khusus bagi orang-orang yang bertakwa, Allah telah menjanjikan berbagai macam keistimewaan atau balasan atas mereka, di antaranya: pertama, bagi siapa saja yang bertaqwa kepada-Nya, maka akan dibukakan baginya jalan keluar ketika menghadapi pelbagai persoalan hidupnya. (QS Ath-Thalaq: 2).

Kedua, memperoleh rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS At-Thalaq:3). Ketiga, dimudahkan segala urusannya (QS Al-Thalaq:4). Kelima, diampuni segala dosa dan kesalahannya, dan bahkan Allah SWT. akan melipatgandakan pahala baginya (QS Al-Thalaq: 5). Keenam, orang yang bertaqwa tidak akan pernah merasa takut, mengeluh, was-was dan sedih hati (QS Yunus: 62-63). Ketujuh, mereka yang bertaqwa akan memperoleh berita gembira (al-busyra), baik di dunia maupun di akhirat (QS Yunus: 64).

Di samping memberikan motivasi, janji-janji yang terkandung dalam ayat-ayat di atas juga menjelaskan tentang keutamaan taqwa dan fungsionalnya terhadap problematika kehidupan seorang muslim. Oleh sebab

itu, tidak semestinya bagi seorang muslim atau mukmin memandang remeh perkara ini. Pasal, taqwa berfungsi sebagai bekal hidup yang paling esensial dan substansial.

Lebih-lebih, bagi seorang pemimpin yang sedang memikul amanah dan tanggung jawab, bekal ketaqwaan tentunya sangat diperlukan. Tidak mustahil, seorang pemimpin, apa pun posisi dan levelnya akan mampu menunaikan tugas-tugasnya dengan baik, menemukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya serta dapat mencapai tujuan kolektifnya, apabila pemimpin tersebut membekali dirinya dengan ketakwaan kepada Allah.

Ibadah puasa Ramadhan tahun ini sudah hampir tiba. Kehadirannya merupakan momentum yang sangat berharga bagi kita untuk bermuhasabah dan berlomba-lomba dalam memperbanyak amal kebajikan sehingga kita betul-betul termasuk golongan insan bertakwa. 

Wallahu'alam bis shawab.

Sebagai seorang muslim tentu kita tahu siapa Tuhan kita. Siapa yang menciptakan kita. Siapa yang pantas kita sembah. Dan juga mengatahui penghambaan kita untuk siapa. Serta kita ini adalah hamba siapa.

Namun tahukah engkau wahai saudaraku? 

Sesungguhnya secara sadar tidak sadar, kita telah menjadi hamba selain Allah SWT. Mau tidak mau kita sudah termasuk orang yang menuhankan tuhan selain Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Esa, Allah SWT. Yang kita tuhankan ini bisa juga disebut berhala modern. Sehingga kita seringkali terjerumus dan terjatuh dalam penghambaan kepadanya. Secara tidak sadar dan sadar, kita telah menyembahnya, menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada tuhan ini. Kita rela melakukan apapun demi tuhan yang tidak layak kita sembah ini.

Materi dan duniawi beserta segala macam isinya seperti popularitas, wibawa, jabatan, dan lain sebagainya. Itu semua adalah tuhan yang kita sembah selain Allah SWT. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu. Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah hamba-hamba dinar, dirham, dan kain beludru. Jika diberi ia rela dan jika tidak diberi ia tidak rela”. (H.R Bukhari).

Imam Shon’ani dalam Subulu as Salam syarah Bulughu al-Maram menjelaskan. Bahwasanya yang dimaksud dengan hamba dinar dan dirham adalah orang yang menghambakan dirinya kepada duniawi. Ketika ia mencari dunia seolah ia adalah hamba dari dunia itu dan dunia adalah sang raja-nya. Serta ia telah benar-benar tenggelam kepada syahwat duniawinya.

Beliau juga menambahkan. Bahawasanya yang tercela dari dunia adalah ketika seorang hamba telah menenggelamkan dan menyibukan dirinya untuk dunia. Sehingga ia melupakan kewajibannnya kepada Allah SWT. Dzat yang lebih berhak diutamakan dari apapun dan siapapun.

Marilah kita renungkan bersama akan hal ini wahai saudaraku! ‘abdullah artinya hamba Allah, menuhankan Allah SWT. Dari sini kita bisa juga maknai. Bahwasanya ‘abdu ad-dirham dan ‘abdu ad-dinar, hamba dirham dan hamba dinar. Orang yang menuhankan dirham serta dinar. Dimana dirham dan dinar adalah perlambang dari materi atau duniawi. Ini seperti yang diisyaratkan Imam Shon’ani. Namun ia tidak sampai jatuh pada hukum syirik.

Ketika kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi. Ketika kita tidak menghiraukan status harta itu. Apakah ia syubhat, haram, atau halal. Yang penting kita mendapatkannya. Bukankah itu sudah termasuk dari penghambaan kepada materi? Menyerahkan diri, melakukan apapun demi materi.

Ketika kita berusaha meraih popularitas, dan berusaha mempertahankannya mati-matian. Bahkan tak jarang menempuh jalan mistik yang tidak seharusnya. Dan juga membahayakan diri sendiri dengan konskuensinya. Bahkan tak jarang demi popularitas rela merendahkan diri dengan mengobral aurat misalnya. Atau memperdagangkan diri secara langsung dan tidak langsung. Bukankah itu berati kita sudah menghambakan diri kita untuk pupolaritas, duniawi? Serta mengalahkan Allah SWT Dzat Yang Maha Agung dengan segala aturannya yang sempurna?

Hidup ini tak ubahnya seperti sebuah drama atau sandiwara. Setiap orang mempunyai perannya masing-masing. Setiap dari peran itu mempunyai konskuensi tersendiri. Namun terkadang dalam waktu tertentu seolah kita berada di bangku penonton menyaksikan drama tersebut. Sehingga kita bisa menilai, memprotes, dan mengkiritik atas perbuatan dari lakon tertentu dan alur ceritanya. Sementara ketika kita menjadi dari lakon itu sendiri. Kita hanya menjalankan peran yang ada, tanpa bisa menilai, mengkritik dan memprotes.

Allah SWT mempunyai kuasa penuh atas adegan-adegan hamba-Nya dalam setiap episode kehidupan ini. Setiap lakon mendapat perannya masing-masing. Kesemuanya menjadi satu pertunjukan yang sempurna. Bagai sebuah mata rantai kehidupan. Dalam drama manusia lakon tidak mempunyai pilihan. Ia sudah terkunci oleh plot cerita. Terpaku pada skript naskah.

Sedangkan dalam drama Illahi lakon manusia mempunyai kebebasan. Lakon diberi kewenangan dalam menentukan perannya. Bahkan tuk menjadikan dirinya pemeran utama pun, diperbolehkan. Allah SWT hanya memberikan garis besar alur cerita dan konskuensi setiap peran yang dipilih dan dimainkannya.

Seringkali kita merasa tidak puas dengan suatu keadaan, atau suatu adegan dalam episode hidup ini. Kita mempertanyakan keadilan Sang Illahi. Bahkan kita sering menuduh bahwasanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna dan Adil, berlaku tidak adil kepada kita. Allah SWT telah mencelakakan atau menyia-nyiakan kita.

Sesungguhnya hal itu tidaklah mungkin terjadi. Bahkan Allah SWT berlaku sangat baik dan royal kepada kita. “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. ( Q.S An Nisa : 40 ). Sesungguhnya kitalah yang menganiaya diri kita sendiri. Ali Imran : 182, Al Anfal : 51, At Taubah : 70, Hud : 101.

Sesuatu yang dengan pikiran sesaat kita tidak menyukainya. Namun ketahuilah! Dengan bersabar sejenak, kita akan sangat berterimkasih kepada Allah SWT. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al Baqarah  : 216).

Tak jarang kita bersedih karena suatu hal dan dalam sekejap kita tertawa karena hal lainnya. Allah selalu mempunyai rencana sempurna untuk membuat hambanya tersenyum bahagia pada akhirnya. Ada isyarat-isyarat yang dapat ditangkap dalam memahami kesempurnaan skenario Allah SWT. Setiap kejadian yang kita alami disekitar kita. Berhubungan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya kepada kita.

Gambaran sederhananya, Allah SWT akan memberikan rambu-rambu pada hidup kita. Jika tujuan kita itu baik untuk kita, maka Allah SWT akan membimbing melalui jalan terbaik. Jika tujuan itu tidak baik untuk kita, Allah akan memberikan rambu-rambu agar kita tidak melanjutkannya.

Cermatilah! Setiap isyarat yang diberikan Allah. Bersabarlah sejenak! Kemudian cerna dengan hati nurani yang bersih dan pikiran yang jernih. Maka kita akan mendapatkan kesempurnaan takdir-Nya. Kita akan merasakan cinta dan kasih sayang-Nya. 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Berada dalam sebuah hubungan bukan tentang berciuman, bermesraan , saling ini dan itu atau pamer sesuatu. Ini tentang menjadi dengan orang yang membuat Anda bahagia dengan cara yang tidak ada orang lain bisa melakukannya.

Sebuah hubungan tidak didefinisikan dengan jumlah ciuman atau bermesraan serta saling memuji sehari, atau  menyukai gambar yang Anda posting di Facebook bersama-sama. Sebuah hubungan adalah tentang dengan seseorang yang membuat Anda bahagia dengan cara yang tidak ada orang lain bisa membuatnya. Seorang pencinta sejati adalah seseorang yang melihat potensi anda dan yang akan mendorong anda untuk mencapainya dengan segala cara, termasuk menjalani kehidupan dan menilai kehidupan sesuai dengan petunjuk Ilahi.

Sebuah hubungan yang nyata adalah tentang membantu baik peserta di dalamnya tumbuh, tidak hanya satu atau yang lain. Beberapa cenderung merasa seolah-olah hubungan mereka harus divalidasi oleh orang lain ketika hanya orang yang benar-benar dapat mengevaluasi hubungan adalah peserta di dalamnya.

Jadi jika Anda mengalami hubungan sekarang yang sebaliknya mungkin benar, maka mungkin sangat baik  bagi Anda untuk mengevaluasi kembali melanjutkan hubungan ini. Ingat bahwa hubungan adalah bukan tentang satu pihak saja. Ini bukan tentang Anda atau saya, itu adalah tentang kita!


Jangan biarkan satu orang membawa seluruh dunia ke bawah. 

Ya memang benar bahwa pada waktu orang-orang yang kami pikir mungkin tidak pernah mengecewakan kita, akhirnya melakukannya, dan kadang-kadang orang-orang yang kami pikir akan mencintai kita dan berada di sana untuk kita selamanya tiba-tiba meninggalkan kehidupan kita. Sementara itu wajar untuk berduka, tidak pernah membuang terlalu banyak waktu dan tinggal pada masa lalu atau orang yang anda lihat tidak memiliki potensi untuk bisa berubah.

karena orang yang bisa kita rubah dan bisa kita ajak melakukan perbaikan adalah mereka yang mau mendengar dan mau menjalankan, bersama menuju kebahagiaan.

Wallahu A'lam

Jika seseorang menyakiti Anda, mengkhianati Anda, atau menghancurkan hati Anda ampunilah mereka, karena mereka telah membantu Anda belajar tentang kepercayaan dan pentingnya berhati-hati ketika Anda membuka hati Anda.

Dalam kehidupan ada pelajaran yang harus dipelajari dalam semua kenangan , perjalanan , yang membuahkan hasil dan pengalaman Anda dan semua kejatuhan serta kesalahan anda. Jangan biarkan hal-hal seperti itu membuat hubungan anda menjadi gagal dan membawa Anda turun atau menghentikan Anda dari yang pernah anda inginkan. Mengampuni mereka yang telah menyalahgunakan kepercayaan Anda, mereka yang seharusnya dengan Anda, tapi bertindak dengan lebih baik kepada mereka dan memberikan mereka kebahagiaan lebih dari apa yang telah mereka lakukan terhadap Anda, mereka yang telah bersedia untuk tidak hanya patah hati , tetapi bersedia untuk mengkhianati Anda juga.


Inilah orang-orang yang telah membantu Anda , karena orang-orang inilah yang telah mengajarkan siapa dan bagaimana serta dimana membuat kepercayaan dan menjalin hubungan untuk saling percaya, kapan harus berhati-hati serta memberikan peringatan akan tanda-tanda seseorang yang menjadi tidak bisa dipercaya, dan akhirnya mereka telah membantu Anda untuk menentukan apa yang terbaik di masa depan untuk membuka hati.

Jalani kehidupan Anda, jangan biarkan perasaan sakit hati dan kesalahan serta kejatuhan dalam menjalani hidup menghalangi anda, gunakan hikmat anda dari pengalaman anda, tetapi tidak pernah membiarkan mereka menahan anda dari melihat kebesaran dan rahmat serta ampunan Sang Maha Kuasa.


Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga taman-taman dan di dekat mata air-mata air yang mengalir.


Dikatakan kepada mereka: "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.

Al Hijr : 45 - 48

Beginilah keadaan mereka dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar disediakan tempat kembali yang buruk, yaitu neraka Jahannam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat tinggal.

Inilah azab neraka, biarlah mereka merasakannya, minuman mereka air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam

Dikatakan kepada mereka: "Ini adalah suatu rombongan pengikut-pengikutmu yang masuk berdesak-desak bersama kamu ke neraka."

Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka: "Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka."

Pengikut-pengikut mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap."

Mereka berkata lagi: "Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka."

Dan orang-orang durhaka berkata: "Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu di dunia kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)"

Apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena mata kami tidak melihat mereka?"

Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, yaitu pertengkaran penghuni neraka.

Shaad : 55 - 64

Rasulullah SAW bersabda, "Al Harj (akan meningkat)"' Mereka bertanya, "Apakah Al Harj itu?" Beliau menjawab, "(Yaitu) pembunuhan (saling membunuh), (yaitu) saling membunuh (pembunuhan)." (HR Bukhari)

Hari Kiamat (As Sa'ah) akan tiba ketika kekerasan, pertumpahan darah, dan kekacauan akan menjadi suatu yang lazim (HR Al-Muttaqi al-Hindi, Muntakhab Kanzul Ummaal)

Dunia ini tidak akan menemui akhirnya, hingga suatu hari akan datang pada manusia, pada hari itu akan ada pembunuhan massal dan pertumpahan darah. (Muslim)

Apabila kita melihat empat belas abad lalu, kita melihat berbagai peperangan di wilayah tertentu sebelum abad kedua puluh. Akan tetapi, peperangan yang mempengaruhi setiap orang di dunia, sistem politik, seluruh perekonomian, dan struktur sosial, hanya terjadi pada masa kini saja, dalam dua perang dunia. Di Perang Dunia I, lebih dari 20 juta jiwa meninggal. Pada Perang Dunia II, jumlah yang mati lebih dari 50 juta jiwa. Di samping itu, Perang Dunia II diakui sebagai perang yang paling berdarah, paling besar, dan paling menghancurkan dalam sejarah.

Berbagai pertentangan yang terjadi setelah Perang Dunia II (Perang Dingin, Perang Korea, Perang Vietnam, konflik Arab-Israel dan Perang Teluk) adalah contoh di antara berbagai peristiwa yang paling gawat di zaman modern ini. Selain itu, berbagai perang, pertentangan, dan perang saudara di tingkat wilayah telah menyebabkan kehancuran di berbagai belahan dunia. Di berbagai tempat seperti Bosnia, Palestina, Chechnya, Afghanistan, Kashmir, dan banyak lagi lainnya, berbagai masalah terus merongrong kemanusiaan.

Contoh lain bentuk 'kekacauan' yang menghantui umat manusia yang setara dengan peperangan adalah teror terorganisir tingkat internasional. Seperti yang juga disepakati oleh pihak berwenang dalam masalah ini, berbagai tindakan teror telah berlipat ganda jumlahnya di paruh kedua abad kedua puluh.2 Bahkan dapat dikatakan bahwa teror adalah sebuah ciri khas abad kedua puluh.2 Berbagai organisasi yang bercirikan rasisme, komunisme, dan berbagai paham serupa, atau dengan tujuan kebangsaan, telah melakukan berbagai tindakan kejam dengan bantuan teknologi yang semakin maju. Di dalam sejarah dunia yang lebih terkini, berbagai tindakan teror berulang-ulang telah menyebabkan kekacauan. Banyak darah telah tertumpah dan orang-orang tak bersalah yang tak terhitung jumlahnya telah telah dibantai atau terbunuh.